Asap dari alat pemanggang mengepul ke udara memenuhi ruangan yang sesak oleh susunan panci dan alat untuk membuat kue. Tepung sisa adonan berserakan di meja pantry. Aroma roti dan kue menguat membuat indra penciuman menjadi buta. Kenikmatan bayangan roti hangat memenuhi mulut. Sang pastry chef masih sibuk mengaliskan adonan untuk calon roti yang akan masuk ke dalam pemanggang. Perut bulat menjadi hal identik di toko roti ini, menjadi ikon tersendiri. Dia sering dipanggil si perut bulat, padahal nama aslinya cukup indah, Dimas.
Setiap paginya toko selalu dihampiri orang yang berlalu-lalang entah dari mana. Rupiah-rupiah terkumpul sedikit demi sedikit cukup untuk menghidupi dirinya yang hidup sebatang kara. Untungnya ibu mewariskan toko ini untuknya. Dimas akan memulai harinya di dapur dari fajar dan pulang saat matahari sudah lebih dahulu tenggelam, begitu setiap harinya. Walaupun dia selalu berada di balik meja pantry dan alat pemanggang, ada satu sifat buruk yang selalu dia jaga sedari kecil, boros.
Dahulu saat ibu masih ada, Dimas selalu ditegur dan dinasihati. Apa masuk ke telinga? Iya, namun tidak singgah di hati dan pikirannya, hanya lewat lalu keluar lagi. Saat dewasa sifat ini menjadi tabiat yang tidak bisa dihilangkan. Kopi merupakan hal wajib yang harus dia beli dari toko sebelah. Bahkan, sehari mungkin bisa habis tiga sampai lima gelas kopi.
Seperti hari ini adalah akhir bulan. Stok bahan roti sudah menipis. Senja mulai datang, Dimas menutup toko lebih cepat dari biasanya. Dimas berjalan ke alun-alun kota, pergi menjelajahi toko demi toko untuk membeli bahan pembuat roti. Seperti biasanya, uang itu selalu habis. Namun, bahan kue kurang dua.
Dimas duduk di sebuah kursi di tepi alun-alun. Dia pandangi lambat-lambat orang yang berlalu lalang. Orang-orang itu mengikuti angin yang membawa mereka pergi.
“Huh, jika tahu begini pada awal bulan kemarin, sebaiknya aku berhemat.” Kepalanya mulai tertunduk meratapi nasibnya yang malang sore ini. Di tengah kerisauannya, sebuah tepukan halus mendarat di bahunya. Dimas terperanjat menoleh ke arah tepukan itu berasal.
Dia lihat dengan saksama, rambut putih beruban, wajahnya sedikit berkerut tanda hari yang dia lalui telah menghabiskan wajah segarnya. Bajunya tidak terlalu rapi, tetapi masih layak untuk digunakan. Bibirnya membentuk senyum manis dengan dua lesung pipi yang indah.
“Sepertinya pikiranmu sangat banyak anak muda, ceritakan kepadaku, mungkin pria tua ini bisa membantumu,” tiba-tiba seorang kakek duduk di sebelah Dimas. Kakek itu bertanya lantaran melihat kondisi Dimas yang sangat berantakan.
“Ah, hanya kebiasaan bodoh yang selalu aku bawa sedari kecil. Itu sangat merepotkanku di akhir bulan. Uang yang aku punya tidak cukup untuk membeli persediaan produksi roti.” Dimas menunduk melihat kertas belanjaannya masih memiliki ruang kosong untuk beberapa bahan.
“Hahaha, sunguh berat ternyata. Namun, kau tidak perlu khawatir anak muda, permasalahanmu bisa diselesaikan dengan satu alat ajaib yang aku miliki.” Kakek itu meraih tas yang ada di punggungnya. Dia mengeluarkan sebuah kotak kayu berukiran motif-motif tanaman dan bunga yang indah.
“Masukkan seperempat penghasilan tokomu setiap harinya ke dalam kotak ini, jangan pernah kau hitung dan kau buka. Anggap saja uang itu tidak pernah ada. Percayalah padaku, kekuatan ajaib dari kotak ini akan memudahkanmu di akhir bulan.”
Kotak itu dia serahkan ke tangan Dimas. Lalu, dia berdiri. Belum sempat kakinya melangkah, Dimas menahannya.
“Terima kasih, akan aku lakukan sesuai yang kau katakan.”
Kakek itu tersenyum dan melangkah pergi meninggalkan Dimas yang masih duduk di kursi alun-alun kota. Hari berlalu, hal yang diperintahkan kakek itu selalu dia lakukan. Setiap hari tidak lupa dia memasukkan uang ke dalam kotak itu. Kebiasaannya yang setiap hari harus membeli kopi dan kebiasaan boros perlahan terkikis. Dia perlahan mengalihkan atensinya untuk fokus menyisihkan uang itu ke kotak yang diberikan sang kakek.
Sudah akan tahun baru, Dimas seperti biasa ingin memasukkan uang ke dalam kotak. Namun, saat dia berusaha memasukan ke lubang yang ada di atas kotak, uang itu tersangkut, tidak bisa masuk. Dimas terdiam melihat kalender. Ternyata pertemuannya dengan kakek itu sudah enam bulan yang lalu. Dia mencoba membuka kotak itu. Ratusan lembar uang berdesakan ingin keluar dari kotak.
Sekarang Dimas paham tentang keajaiban kotak yang dikatakan kakek. Ternyata bukan tentang kekuatan mistis yang ada di dalam kotak, tetapi kebiasaannya yang perlahan mulai berubah. Dimas membawa uang-uang itu ke bank dan memasukkanya ke dalam tabungan untuk investasi masa depan. Namun, kotak itu masih ada, masih menjadi tempat dia menyisihkan seperempat penghasilan toko rotinya. Dia tidak akan pernah melupakan enam bulan yang berharga ini.


