Bel sekolah telah berbunyi, itu tandanya jam pelajaran akan berakhir siang ini. Namaku Tina, aku masih berusia 10 tahun, dan duduk di bangku Sekolah Dasar. Sepulang sekolah, aku berjalan lesu sendirian menyusuri jalanan kota. Kendaraan lalu-lalang di samping kananku. Saat berjalan, tak sengaja kulihat sebuah toko antik. Toko itu cukup besar berwarna coklat tua. Toko antik itu berada di seberang jalan, diapit oleh toko roti dan toko sepatu dengan tulisan “Barang Baru” sebagai mereknya. Rasa penasaranku yang sangat tinggi membuatku melangkah pergi ke arah toko antik itu.
Sesampainya di sana aku masuk untuk melihat-lihat isi toko. Aku termenung sejenak sambil memperhatikan seluruh isi toko. Ternyata, toko antik ini juga menjual berbagai peralatan tulis.Toko itu memang tampak kuno dari luar, tetapi di dalamnya berderet peralatan tulis antik yang jarang ditemui di toko biasa. Toko itu terlihat ramai dan banyak orang tertarik berkunjung untuk melihat-lihat peralatan tulis yang dijual.
Saat aku sedang termenung, tiba-tiba seorang laki-laki tua dengan baju coklat, celana hitam, dan jam tangan emas datang menghampiriku.
“Nak, kamu mau mencari apa? Apakah penghapus?” tanya Pak Joki, pemilik toko tersebut.
Awalnya aku melangkah masuk karena hanya ingin melihat beberapa barang antik yang ada di sana. Namun, sebelum sempat aku mengutarakan maksud kedatanganku, Pak Joki dengan ramah menyodorkan sebuah penghapus karet. Seketika, fokusku teralihkan kepada penghapus imut itu. Benda kecil itu mengingatkanku pada penghapus di rumah yang kini bentuknya sudah mengecil dan hampir habis.
“Iya, Pak. Saya ingin mencari penghapus,” jawabku seolah terhipnotis oleh Pak Joki.
Bapak itu lalu menyambung, “Mari sini, Bapak tunjukkan tempat teman-temannya yang lain.”
Aku mengikuti Pak Joki. Sesampainya di sana, aku melihat banyak sekali penghapus yang tertata rapi.
“Silakan kamu pilih,” ujar Pak Joki.
Aku mengangguk pelan mendengar perkataan Pak Joki.
Perhatianku tertuju pada sebuah penghapus berwarna abu-abu, berbentuk persegi panjang, dengan ukuran sedang, sekitar 4 cm dan lebar 1,2 cm. Kuambil dan kupegang penghapus itu. Jari-jariku merasakan teksturnya yang kenyal dan kesat.
“Kamu sangat pintar memilih penghapus yang bagus,” ujar Pak Joki sambil tersenyum. Matanya menyipit.
Aku tercengang mendengar perkataan bapak itu, lalu berkata dengan canggung, “Iya, Pak.”
“Saat kamu berbuat kesalahan, tulis kesalahan itu di atas selembar kertas, lalu hapus tulisan itu dengan penghapus tersebut,” ucap Pak Joki pelan setengah berbisik.
Aku terdiam sejenak lalu berkata, “Baik, Pak.”
“Ambil saja penghapus ini. Bapak berikan gratis untukmu, hanya untukmu. Gunakanlah penghapus ini dengan baik,” ujar Pak Joki dengan wajah datar.
Aku mengucapkan terima kasih kepada Pak Joki, lalu pergi dari toko itu dan berjalan pulang sendiri menuju rumah.
Sesampainya di rumah, aku langsung mencoba penghapus tersebut. Gesekan karet itu membuatku teringat pada kejadian di sekolah tadi. Aku tidak sengaja menjatuhkan botol minum temanku, tetapi saat aku meminta maaf, temanku tidak mau memaafkanku. Aku langsung menulis kesalahan itu di atas selembar kertas, lalu menghapusnya.
Keesokan harinya, aku pergi ke sekolah. Seperti biasa, aku berjalan kaki sendirian menuju sekolah.
Sesampainya di sekolah, temanku yang bernama Kila, pemilik botol yang kujatuhkan kemarin, ternyata sudah tidak marah kepadaku. Ajaibnya, ekspresi Kila tampak biasa saja. Dia seperti tidak lagi marah kepadaku. Justru dia mengajakku untuk bermain bersama.
Saat jam makan tiba, Kila juga mengajakku makan bersama. Aku senang dan langsung menerima tawaran itu. Saat makan, kulihat botol minum Kila. Botol itu telah kembali seperti semula, padahal kemarin tidak sengaja kujatuhkan. Tidak ada sedikitpun goresan yang terlihat pada botol itu.
“Wah, ternyata benar kata Bapak itu. Saat aku berbuat kesalahan, aku bisa menghilangkannya dengan penghapus ini,” ucapku dalam hati sambil menyeringai.
Saat jam istirahat berakhir, aku kembali belajar. Ibu Guru memberi kami latihan matematika yang harus diselesaikan hari ini. Aku mengerjakannya dengan santai. Setelah selesai, aku langsung mengumpulkan tugas itu di meja Bu Guru. Beberapa menit kemudian, Ibu Guru membagikan kembali lembar kerja kami. Kuambil kertas itu, lalu pergi menuju tempat duduk dan melihat hasil pekerjaanku.
Aku terdiam beberapa saat, meratapi hasil latihan matematika tadi. Ternyata, ekspektasiku terlalu tinggi untuk mendapatkan nilai sempurna. Malahan hari ini aku mendapatkan nilai yang buruk. Aku keliru mengerjakan latihan kali ini.
“Bagaimana jika aku tulis saja nilai buruk ini di kertas, lalu aku hapus?” ucapku.
Tanganku langsung menulis. Jari-jariku bergerak dan kutulis nilai buruk itu, lalu menghapusnya.
Tidak lama kemudian, Ibu Guru memanggilku dan mengatakan, “Maaf, Tina. Ibu tadi salah menghitung nilaimu.”
Mendengar perkataan itu, aku sangat senang. Ternyata, nilaiku menjadi sempurna.
Tak terasa, sudah tujuh bulan aku menggunakan penghapus tersebut. Berbagai kesalahan yang kubuat, mulai dari mengubah nilaiku, menjatuhkan barang orang lain, hingga memecahkan vas bunga berwarna biru milik Ibu, selalu bisa beres karena pertolongan penghapus ajaib ini.
Saat di sekolah, teman-temanku membuat emosiku tersulut hingga membuat darahku mendidih. Tanpa berpikir panjang, aku langsung melemparkan sebuah buku paket ke arah mereka. Sayangnya, lemparan itu meleset dan mengenai Reno, si ketua kelas.
“Tina! Kamu kasar sekali! Kamu melemparkan buku paket yang seberat beton ini ke arah mukaku,” cetus Reno.
Aku langsung kabur dari Reno tanpa meminta maaf sedikit pun. Aku pergi membawa selembar kertas yang ada di meja, lengkap dengan pensil dan penghapus.
Saat sampai di taman, penghapus itu tiba-tiba saja hilang dari tanganku, padahal aku memegangnya dengan erat sambil berlari keluar dari tempat tadi.
Aku langsung mencari penghapus itu. Langkah demi langkah kulalui, tetapi penghapus itu tidak kutemukan. Aku terus mencarinya hingga akhirnya bel pulang berbunyi.
Mendengar bel, aku langsung bersembunyi di balik pohon beringin besar yang ada di dekat taman sekolah. Aku membiarkan teman-temanku keluar terlebih dahulu agar saat aku masuk ke dalam kelas, ruangan sudah kosong dan tidak ada siapapun. Setelah menunggu sekitar lima menit, aku langsung bergegas menuju kelas.
“Ternyata benar dugaanku, kelas telah kosong,” ucapku dalam hati.
Aku langsung bergegas ke toko antik tersebut untuk membeli penghapus itu lagi. Sesampainya di sana, yang kulihat hanyalah sebuah bangunan kosong. Tidak ada lagi toko antik yang menjual peralatan tulis.
“Aduh, bagaimana ini? Penghapus itu hilang,” ucapku dengan panik.
Aku sudah ketergantungan pada penghapus itu. Setiap kali membuat kesalahan, aku pasti menghapusnya tanpa mengakui kesalahan dan meminta maaf sedikit pun. Aku selalu menuliskan kesalahanku di atas kertas, lalu langsung menghapusnya.
Sekarang, masalahku menjadi sangat rumit. Jika aku tidak segera meminta maaf, Reno pasti akan melaporkanku kepada guru BK (Bimbingan dan Konseling) yang ada di sekolah.
Tanpa berpikir panjang lagi, mataku tertuju pada salah satu satpam yang berjaga di toko roti sebelah.
“Semoga Bapak ini tahu toko antik itu pindah ke mana,” ucapku dalam hati.
Aku segera menghampiri dan bertanya kepada Bapak itu.
“Permisi, Pak. Saya ingin bertanya, toko antik di sini pindah ke mana, ya?” tanyaku.
“Toko antik? Kalau tidak salah, menurut beberapa orang di sekitar sini, toko itu sudah bangkrut sejak 70 tahun yang lalu. Jadi, toko itu sudah dirobohkan dan direnovasi menjadi bangunan baru,” jawab Bapak itu dengan wajah datar.
“Ja ja jadi, toko itu telah menghilang sejak 70 tahun yang lalu?” ucapku dengan panik.
Degup jantungku menderu liar, berpacu dengan bayang-bayang penyesalan yang tak kenal ampun.

