Setiap hari Nana membawa bonekanya ke sekolah. Saat boneka tersebut ingin disentuh oleh teman, bahkan guru sekali pun, Nana tidak mengizinkan. Hari ini Nana datang ke sekolah dengan raut wajah murung. Teman dekat Nana bernama Andin pun menanyakan apa yang sedang terjadi kepada Nana.
Nana menceritakan semuanya kepada Andin.
“Andin, hari ini aku merasa sangat sedih. Kamu tahu kan Choko, boneka kecilku yang berwarna coklat? Boneka itu dipinjam oleh anak bibiku, tetapi dia tidak menjaga Choko dengan baik sehingga Choko tersangkut ke ranting pohon. Itu juga alasanku sedih karena aku juga tidak bisa membawa Choko. Choko baru saja dijahit oleh bibi tadi pagi.”
Andin kebingungan dengan cerita Nana karena menurut Andin, mengapa dia harus sedih karena sebuah boneka. “Sudahlah, Nana, aku kira kamu sedih karena ada masalah yang serius, eh ternyata bukan,” ucap Andin dengan nada remeh.
Nana terdiam saat mendengar pernyataan dari Andin. Ia berdiri dengan kecewa dan tidak mengatakan sepatah kata pun. Nana merasa Andin tidak menghargai barang istimewa yang dimilikinya.
Keesokan harinya, Andin sudah menyiapkan sebuah bingkisan kecil untuk Nana. Andin berharap Nana dapat memaafkannya. Andin menunggu Nana di depan gerbang, tetapi Nana tak kunjung datang. Bel pun sudah berbunyi. Andin masuk ke kelas dan guru mengatakan Nana izin kepada Bu Guru untuk tidak sekolah hari ini dengan alasan tidak enak badan.
Saat itu, Bu Guru meminta semua murid untuk membuat cerita tentang barang yang sangat disayangi. Tugas tersebut akan dikumpulkan dan diceritakan di depan kelas.
Tak lama kemudian, bel pulang sekolah pun berbunyi. Para murid berlari menuju pintu gerbang dan pulang ke rumah masing-masing. Andin masih duduk di bangku sambil melamun memikirkan Nana, “Apakah dia akan memaafkanku?” ucap Andin.
Bu Guru bertanya, “Andin, mengapa kamu belum pulang, apakah ada yang ingin kau katakan kepada Bu Guru?”
Andin terkejut bahwa ada ibu guru yang mendengarkan percakapannya. “Tidak Bu Guru, Andin pulang dulu ya, Bu Guru.” Andin buru-buru mengemasi buku dan barang-barang, lalu menyalami gurunya.
Andin pun pergi ke rumah Nana. Saat itu, Andin mengetuk pintu rumah Nana, tapi yang membuka pintu itu bukanlah Nana, melainkan seorang wanita muda. Andin berpikir bahwa wanita muda tersebut adalah ibu dari Nana.
Andin menyalami wanita tersebut sambil berkata, “Assalamualaikum, Bu, Nana ada Bu? Ibu mamanya Nana kan?”
Wanita tersebut terkejut dan tertawa kecil dengan perkataan Andin. “Saya bibinya Nana, nananya ada kok di dalam. Mau bibi panggilkan?”
Andin merasa malu dan gugup dan mengucapkan, “Astaga, maaf ya, Bibi, saya gak tahu kalau Bibi bukan ibunya Nana.”
Nana pun datang, lalu duduk berjarak dengan Andin, sambil membuang muka. “Aku mau ingatkan, Bu Guru memberi tugas tentang barang yang sangat kita sayangi dan akan kita bacakan Minggu depan di depan kelas.”
Nana hanya diam dan mengangguk. Andin menanyakan satu hal lagi, “Nana, apakah dia benar-benar bibimu?, lalu yang mana ibumu?”
Nana menjawab dengan dingin. “Kamu dengar saja nanti saat cerita tugas Minggu depan, kamu akan tahu semuanya.”
Nana berdiri, berjalan langkah demi langkah ke kamarnya. Andin merasa Nana adalah anak yang aneh dan juga sensitif, selalu ingin dimengerti. Oleh karena itu, Andin juga merasa kesal dengan Nana dan pergi dari rumahnya.
Minggu depan pun tiba. Semua murid dapat gilirannya untuk bercerita tentang barang yang disayanginya. Giliran Andin pun telah tiba. Andin bercerita bahwa dia tidak sangat menyayangi barang, baginya, itu sangat tidak berguna.
Giliran Nana pun tiba. “Halo semua, kali ini aku mau ceritakan tentang barang yang sangat aku sayangi. Barang ini bukan sembarangan barang biasa, tapi bukan berarti ini mahal atau sebagainya. Aku selalu membawa Choko ke mana-mana. Choko itu sangat cantik dan juga rasanya terasa hangat dan menemaniku sepanjang masa.”
“Mengapa begitu Nana?” tanya Bu Guru penasaran.
“Karena Nana merasa ada bayangan dan hawa ibu di boneka ini sebab boneka ini adalah peninggalan ibu. Boneka ini selalu menemani Nana dan ibu beraktivitas. Nana merasa kalau Choko ada di samping Nana, sepertia ada mama juga di samping Nana. Nana rindu sekali dengan mama. Mama pergi sejak umur Nana 4 tahun. Sekarang umur Nana adalah 12 tahun dan 8 tahunlah Choko selalu ada di pelukan Nana,” ucapan Nana tersebut membuat ibu guru, Andin sahabat dekatnya, dan teman-temannya terdiam dan menjatuhkan air mata.
Andin meminta maaf kepada Nana karnea selama ini Andin selalu meremehkan barang yang disayangi oleh Nana. Selama ini Andin juga tidak menghargai barang-barang yang ia punya. Andin pun mengerti, semua barang itu berharga.

