Di sebuah lorong yang sempit, tempat bunyi sapu setiap pagi menjadi alarm untuk bangkit dari rumah masing-masing, tinggal Bu Marni. Rumahnya kecil, tetapi selalu rapi. Lantainya mengilap, gorden-gordennya tercium bersih, dan toples-toples di dapurnya tersusun rapi, seperti produk yang dipajang di etalase toko. Siapa pun yang datang untuk pertama kali bisa berpikir, “Wah, ibu ini pasti pekerja keras dan dermawan.”
Namun, kesan ini umumnya hanya bertahan sebentar. Bu Marni di lingkungan itu dikenal sebagai “Si Pandai Berhitung.” Itu bukan cuma soal keuangan—ia tahu berapa sendok teh gula yang ada di dalam secangkir teh, berapa tetes minyak yang digunakan untuk menggoreng tempe, bahkan berapa banyak kerupuk–yang seharusnya dibagikan dari toples sekaligus. Semua hitungannya bermuara pada kesimpulan yang sama: ia tidak boleh boros.
Suatu pagi yang cerah, Bu Sari datang ke rumahnya membawa piring berisi kue lapis yang baru saja dipanggang.
“Assalamualaikum, Bu Marni, aku sedang mencoba resep baru. Ini ada sesuatu saya buat.”
Dengan senyum yang tulus, dia berkata, “Ini untuk Anda, Bu.”
Bu Marni menyambutnya dengan hangat, “Wah, terima kasih banyak ya, Bu. Enak ini kelihatannya,” balas Bu Marni melempar senyum.
Setelah Bu Sari pergi, Bu Marni segera menutup pintu. Ia meletakkan piring di atas meja. Senyumnya berubah menjadi ekspresi cemas. Dia duduk, menarik kursi, lalu mulai menghitung.
“Satu, dua, tiga, … dua belas.”
Dia menggerakkan kepalanya pelan, seperti politikus yang baru saja menyelesaikan laporan penting. Lalu, dia menyuapkan sepotong ke mulutnya, dan berkata, “Tidak terlalu buruk.”
Sisa sebelas potong itu langsung dimasukkan ke kulkas. Namun, ia tidak asal menaruh. Dia susun rapi, memberi jarak antarpotong supaya keliatan “banyak”.
“Bisa buat beberapa hari nih,” ia bergumam sambil senyum-senyum sendiri.
Tak lama kemudian, dia duduk, berpikir, “Harus dibalas, tapi jangan sampai lebih dari yang aku terima.”
Inilah yang membuat Bu Marni itu beda dari yang lain. Kalau diberi ingin selalu banyak, namun jika memberi ingin sedikit, bahkan kalau tidak bisa, tidak usah memberi.
Besoknya, ia buka toples biskuit, ternyata isinya masih lumayan banyak. Bu Marni segera mengambil empat keping, lalu berhenti.
“Kebanyakan,” katanya sambil menimang-nimang dua keping itu. Namun, pada akhirnya, hanya tersisa dua keping kecil yang tidak rata bentuknya. Ia masukkan dua keping biskuit tak berbentuk itu ke dalam plastik bekas belanja cabai. Ia berlenggok jalan ke rumah Bu Sari dengan langkah yakin.
“Ini, Bu, saya balas ya. Kemarin kuenya enak sekali, saya suka,” ucapnya.
Bu Sari nggak marah, hanya senyum dan membalas, “Makasih, Bu.” Dalam hati, Bu Sari sangat bingung, apakah ibu-ibu di depannya ini memang tidak tahu etika atau memang pelit saja. Ia menutup pintu sambil menggeleng-geleng kepala.
Di gang itu, hidup sangatlah santai. Tetangga saling tolong-menolong, saling bagi makanan kalau ada yang masak terlalu banyak. Kalau ada yang lagi susah, pasti ada aja yang datang membantu. Intinya, tidak susah, kecuali Bu Marni. Bu Marni ini berbeda, bagi dia, memberi itu seperti investasi, selalu hitung-hitungan. Tidak boleh rugi dan harus seimbang. Bahkan, kalau bisa, dapat untung sedikit.
Hal ini semakin terlihat saat arisan bulanan. Setiap bertemu, warga selalu membawa makanan, meja selalu penuh dengan gorengan, kue basah, mie goreng, minuman, dan lain-lain. Bu Marni selalu datang paling dulu, katanya “biar bisa ikut bantu-bantu.” Tapi Sepertinya, bantuannya tidak berasa. Dia hanya celingak-celinguk, memperhatikan makanan satu-satu, terus mengambil sedikit-sedikit dari tiap jenis. Tapi yang namanya “sedikit” versi Bu Marni itu, kalau dijumlahkan malah bisa mengisi satu piring penuh.
Triknya, dia selalu mengambil dari pinggir biar tidak kelihatan banyak, ambil potongan yang besar, tapi selalu kelihatan sedikit, lalu dia susun rapi di piringnya supaya tidak dicurigai.
Suatu hari, ada tetangga yang lagi sakit, lalu warga sepakat mengumpulkan dana bantuan. Satu per satu warga mulai menyumbang sesuai kemampuan, tidak ada yang terpaksa ataupun memaksa. Giliran Bu Marni, dia buka dompet seperti membuka brankas dengan keamanan dua lapis,lama sekali.
Akhirnya dia hanya memberi sedikit uang sambil bilang, “Ini dulu ya, Bu. Saya juga lagi banyak kebutuhan.”
Warga yang lain cuma bisa angguk-angguk sambil menelan ludah mereka sendiri, tidak masalah dengan nominalnya. Tapi yang bikin heran, di perjalanan pulang, Bu Marni mampir ke warung, lalu membeli camilan yang jumlahnya jauh lebih banyak dari sumbangannya. Dia sangat santai memamerkan belanjaannya ke tetangga sekitar, tidak merasa aneh sama sekali. Ya, tapi begitulah, Bu Marni, mau bagaimana lagi?

