Bros Ajaib Nenek

Bau tanah bercampur air menyatu menjadi aroma yang melekat pekat di dalam hidung, batu nisan bertuliskan nama nenek sungguh membuat hati Ara tersayat terpotong-potong. Taburan bunga mawar masih berserakan di atas tanah yang menggunung. Sekarang nenek tak lagi bisa menemani Ara tidur ataupun menceritakan dongeng indah tentang Sang Tuan Putri.

Arasya Nazeraldy namanya. Gadis kecil yang sangat manis dan juga memiliki kepribadian yang mampu membuat semua orang senang berada di sekitarnya. Kedekatannya dengan sang nenek, membuat rasa sayang dan cintanya tumbuh kepada sang nenek.

“Ara! Ayo kita ke rumah nenek,” panggil ibu dari pintu masuk pemakaman sembari memegang sebuah payung yang sudah ditutup.

“Iya, Ibu” Ara masih berusaha menghapus bekas air mata dan ingus yang meleleh dari hidungnya.

“Hati-hati di sana, Nenek, aku menyayangimu. Sungguh,” ucap Ara kepada batu nisan, dengan tangan yang mengelus batu nisan tersebut.

Langkah kakinya mulai perlahan menjauhi makam sang nenek. Sebuah mobil merah telah menunggunya sedari tadi di depan pintu pemakaman. Ia masuk ke dalam mobil dan perlahan mobil melaju ke rumah sang nenek. Jalan yang indah bahkan terasa hampa saat mengingat sang nenek. Saat lamunannya semakin panjang, mobil sudah sampai di halaman rumah nenek.

Ara turun dari mobil, mengikuti langkah ibu, menuju ke arah pintu rumah nenek yang memiliki ukiran bunga yang indah.  Saat masuk, Ara merasakan setiap lorong hampa. Dulunya setiap sudut diisi oleh kehangatan dan keramaian. Kini hanya tersisa debu dan kenangan yang melekat di kepala.

Hingga sampailah ia ke kamar sang nenek. Saat dibukanya pintu kamar itu, terdengar bunyi derit kayu yang engselnya sudah mulai karatan. Matanya menyusuri setiap sudut yang ada di kamar sang nenek. Dulu ruangan ini sangat hangat, diisi oleh cerita nenek yang setiap malam selalu mengalir. Kini rasanya dingin. Hanya sepi yang menyelimuti.

Namun, perhatiannya teralihkan oleh sebuah kotak kayu berwarna putih, yang berada di atas meja rias sang nenek. Ia mendekat perlahan dan melihat kotak itu dari dekat. Terdapat sebuah surat di atasnya. Ia membacanya dengan sangat menghayati.

Hai gadis manisku, bagaimana kabarmu sayang? Maafkan nenek karena mungkin saat kau membaca surat ini, nenek sudah tak ada lagi di sampingmu. Jangan menanggis lagi sayang. Wajah manismu jadi hilang. Tak banyak yang bisa nenek katakan, namun aku menitipkan sebuah bros yang ada di dalam kotak putih ini untukmu. Bros ini mungkin akan membantumu. Bros ini bros ajaib. Saat kau berkata jujur, ia akan berwarna biru. Namun sebaliknya, jika kau berkata bohong ia akan berwarna merah. Gunakanlah untuk hal baik dan bermanfaat.

Salam Nenek

Tak tertahan air matanya ikut keluar. Badannya bergetar membaca pesan dalam kertas itu seolah sosok nenek hadir di depannya, dengan tatapan lembut dan tangannya yang mengelus kepalanya pelan. Ara membuka kotak putih itu dan terdapat sebuah bros dengan ukiran kuno, serta sebuah batu ruby di tengah bros. Bros terletak rapi di atas kain berwarna merah.

Ara tak percaya dengan kata ajaib yang disematkan nenek dalam suratnya. Namun, ia ingat bahwa sang nenek tak pernah berbohong. Ia selalu mengatakan yang sebenarnya. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Ara mencoba apa yang nenek katakan dalam surat tersebut.

“Aku anak yang berusia 9 tahun,” ucap Ara untuk membuktikan apakah apa yang disampaikan nenek itu benar atau hanya kata untuk menghibur saja.

Ya, ruby yang ada di bros mulanya berwarna ungu, lalu berwarna biru. Ara sangat terkejut. Ternyata apa yang diucapkan oleh nenek dalam suratnya adalah sesuatu yang asli dan benar adanya. Seketika pikiran Ara tak lagi berfokus pada neneknya yang sudah meninggal, tapi teralihkan pada bros ajaib yang kini berada di tangannya.

Ara memasukan bros itu ke dalam sakunya dan bergegas keluar dari kamar nenek. Raut wajahnya kini tak seperti tadi. Kini ada sedikit senyum yang tersemat di wajah manisnya. Ara kembali menemui ibu di halaman depan, lalu mereka menaiki mobil dan pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, Ara sangat bosan dan tak tahu ingin melakukan apa. Terlintas di benaknya untuk pergi bermain ke taman bersama teman-temanya. Biasanya sore seperti ini teman-temanya sudah berkumpul di taman dan memainkan berbagai permainan bersama. Ara pun bergegas untuk pergi bermain ke taman. Tak lupa ia membawa bros dari nenek.

Sesampainya di taman, Ara melihat teman-teman sudah berkumpul dan bermain congkak di dekat pohon rimbun besar yang ada di taman itu. Ara pun ikut serta duduk di sebelah temannya, Ona.

“Tumben, telat, Ra, habis dari mana?” Ona bertanya sembari tangannya sibuk memainkan anak kucing ke dalam papan congkak.

“Habis dari makam nenek, trus tadi juga mampir ke rumah nenek,” Ara menjawab, matanya masih tetap tertuju pada Ona yang tengah main congkak.

Ara melihat ke arah lawan main Ona, ia merasa asing melihat gadis itu. Rambutnya ikal, kulitnya kuning langsat, dan matanya besar. Sepertinya ia belum pernah melihat gadis ini sebelumnya.

“Ona, dia siapa?”

“Oh iya, aku lupa ngasih tahu. Ini Finzi, anak baru di sekolah. Ia masuk saat kau libur kemarin,” ujar Ona sembari memberikan senyuman kepada Finzi.

“Oh, hai, aku Arasya. Panggil aja Ara.” Ia ulurkan tangannya kepada gadis yang bernama Finzi itu.

“Hai, aku Finzi, salam kenal ya,” Finzi membalas uluran tangan Ara dengan memunculkan sedikit senyum di wajahnya.

Ara menggapai bros dari sakunya, lalu ia genggam di tangannya. Niatnya ingin menunjukkannya kepada Ona, namun sebelum itu terjadi, Finzi sudah lebih dahulu memulai sebuah cerita.

“Tahu tidak, kemarin saat berliburan, aku pergi bersama keluargaku ke Inggris, itu benar-benar asyik,” kata Finzi dengan wajah yang dipenuhi senyum kebahagiaan.

Namun, tak sengaja mata Ara melihat ke arah bros yang ada di tangannya dan warna ruby pada bros itu berubah menjadi merah.

“Aneh,” gumam Ara.

“Kau pergi ke mana saja, Finzi? Di mana kau tinggal saat di sana?” tanya Ona sangat antusias, menatap Finzi dengan pandangan penasaran.

“Aku hanya pergi ke London, namun aku lupa dengan nama hotelnya,” Finzi menggaruk kepalanya yang tak gatal sembari tertawa cengengesan.

Namun, perhatian Ara masih terpaku pada ruby bros yang masih berwarna merah, bahkan makin terang. Ia merasa semua yang dikatakan Finzi itu bohong. Saat melihat perubahan warna yang terjadi pada ruby bros itu, ia tak ingin mengatakannya secara terang-terangan tanpa bukti yang jelas.

Terbesit sebuah ide di pikiran Ara, ia berencana akan mencari tahu tentang Finzi, bisa dibilang mirip seperti detektif. Sepertinya saat mereka selesai bermain dan pulang, Ara akan mengikuti Finzi secara diam-diam.

“Oh ya, Ona, aku ke tempat Zahra dulu ya,” Ara menatap Ona dengan wajah yang imut, memohon agar dibolehkan.

“Jangan sok imut gitu, Yaya, pergi aja,” senyum terbit di wajah Ara, lalu ia pergi ke tempat Zahra dan teman-teman yang sedang duduk.

Sesampainya di sana, Ara malah mendengar perbincangan Zahra dan teman-teman yang lain mengenai Finzi. “Iya, benar, kemarin saat di sekolah, ia berbicara seolah-olah dia orang kaya raya yang bisa keliling dunia. Namun, aku kurang percaya karena biasanya temanku yang benar-benar kaya gak pernah pamer kayak gitu.”

Ara melirik ke arah bros yang ada di tangannya. Bros itu berubah warna menjadi warna biru. Ternyata begini. Ia benar-benar tak menyangka bahwa apa yang ia pikirkan, juga sama dengan teman-teman yang lain. Niatnya untuk mencari tahu tentang Finzi menjadi semakin mengebu-ngebu.

Ara menoleh ke arah Finzi yang melambaikan tangan kepada Ona, sepertinya dia akan pulang. Pandangannya tak lepas dari Finzi sampai ia menghilang dari pandangannya. Ara pun turut izin untuk pulang.

Ia mengikuti Finzi. Jika ia berbelok ke kanan, Ara juga akan berbelok ke kanan, tapi sambil bersembunyi. Namun, jalan yang ia lewati ini, bukan jalan ke perumahan kompleksnya dan teman-teman lain. Tapi, jalan ke arah pemukiman kumuh yang ada di dekat sungai.

Ia terus mengikuti finzi. Ara tak habis pikir. Finzi berjalan menuju sebuah rumah yang sudah berlubang-lubang pintunya. Dindingnya tampak seperti kayu yang sudah dimakan rayap, yang kapan saja bisa runtuh. Saat Finzi akan membuka pintu rumahnya, Ara lebih dulu menarik tangan Finzi.

“Aku tak menyangka kamu akan berbohong sejauh itu, Finzi. Aku benar-benar kecewa,” raut wajah Ara sudah melihatkan bahwa ia sangat kecewa dengan Finzi.

Finzi melihat Ara. Wajahnya sangat kaget dan badannya gemetaran ketakutan.

“Tidak, ini tak seperti yang kamu bayangkan.”

“Apanya yang tak seperti yang aku bayangkan, kenyataannya kamu berbohong, Finzi. Kamu bilang ke teman-teman, kamu memiliki rumah yang mewah dan bisa pergi keliling dunia. Ini apa?” Ara benar-benar menggebu-gebu saat menyampaikan itu. Tangannya juga belum lepas menggenggam tangan Ara.

“IYA, AKU BERBOHONG. KAMU PUAS? AKU MISKIN,” jawab Finzi, air matanya mengalir di pipi dan berbicara dengan suara yang tersedu-sedu.

“Aku memang berbohong. Aku gak ingin di-bully lagi seperti di sekolah lamaku. Mereka mem-bully-ku karena aku miskin, karena orang tuaku gak kaya seperti mereka. Aku takut di-bully,” Finzi menangis sambil berjongkok.

Ara menurunkan badannya, memeluk Finzi. “Tak semua orang sama seperti teman sekolah lamamu. Kami tidak akan mem-bully-mu jika engkau mengatakan yang sesungguhnya. Namun, saat ini kamu sudah terlanjur berbohong. Jika kamu meminta maaf kepada teman-teman, mungkin mereka akan menerimanya dan akan memaafkan kamu.”

“Aku takut, bagaimana jika mereka tak mau memaafkanku?” Finzi masih menangis tersedu-sedu dalam pelukan Ara.

“Tidak, mereka akan memaafkanmu. Selama aku berteman, mereka adalah teman yang baik yang selalu memaafkan setiap kesalahan yang aku buat,” Ara jadi teringat saat dulu ia juga banyak berbuat salah kepada teman-temannya.

“Tapi, bisakah kau menemaniku? Aku takut jika pergi sendiri,” Finzi mulai menghapus jejak air mata yang ada di pipinya.

“Sangat bisa, ayo sekarang cuci dulu wajahmu dan kita kembali ke taman.” Ara menggapai tangan Finzi untuk menariknya berdiri.

Finzi kemudian masuk ke rumah lalu mencuci wajahnya. Di luar Ara menunggu Finzi dengan sabar. Akhirnya Finzi keluar, mereka pun pergi bersama ke taman. Sesampainya di taman, Finzi meminta maaf kepada semua teman-teman mereka yang sudah ia bohongi. Teman-teman pun juga memaafkan Finzi dan mereka memahami bagaimana kondisi Finzi.

“Kerja bagus, Ara,” ujar seseorang dari kejauhan memandang ke arah sekumpulan anak di taman.

Scroll to Top