Gelap. Kabut asap di mana-mana, membuat penglihatanku memburuk. Aku berteriak sekencang mungkin, memanggil kawananku. Hening, tak ada jawaban apa pun. Aku hanya mendengar suara gemerutuk api yang perlahan melahap pepohonan di sekitarku.
Ketika kesadaranku hampir habis, kepalaku terus-menerus memutar ucapan manusia yang kutemui sebelum kebakaran hutan terjadi.
“Maaf, aku yang salah.”
***
Hai, namaku Piko. Aku anak Orang Utan.
Hari ini terik matahari menyinari seluruh hutan Kalimantan, rumah tempat aku tinggal. Aku bersama kawanan Orang Utan, alias keluargaku, sedang asyik menikmati pisang-pisang yang bertebaran di hutan.
“Piko, di pohon sebelah pisangnya lebih banyak, ayo ke sana,” ujar ibuku lembut sembari melompati pohon yang sedang kami nikmati pisangnya.
Aku mengangguk sebelum menghabiskan beberapa pisang yang tersisa dan pindah pohon untuk makan buah yang lain. Walau ujung-ujungnya tetap pisang yang kumakan.
“Piko,” panggil temanku sembari menyodorkan sebuah apel kemerahan yang mengundang selira.
“Aku dengar manusia akan menebang pohon-pohon tempat kita tinggal.”
“Dari mana kau tahu?” tanyaku sembari menggigit apel kemerahan yang cantik itu.
Temanku itu menggaruk kepalanya sebelum berkata, “Desas-desusnya begitu. Tambahkan aku baru pergi ke tepi hutan yang dekat dengan kota.”
Aku mengangguk pelan, lalu lanjut menggerogoti apel cantik itu. Rasa manisnya langsung menyambut lidahku.
“Piko,” panggil ibu sebelum melanjutkan, “ayo balik. Kita cari makan di dekat rumah saja. Ibu lihat pisangnya sudah matang. Rasanya pasti manis.”
Aku langsung mengangguk. Sepanjang perjalanan pulang, aku terus membayangkan rasa manisnya pisang yang baru matang dan harumnya yang menggugah selira.
***
Aku terbangun tengah malam ketika mendengar suara gaduh yang cukup mengganggu. Mataku berkelana melihat sekeliling. Tidak ada siapa pun di sana kecuali pohon-pohon yang menjulang tinggi.
Ketika hendak Kembali tidur, sayup-sayup aku mendengar suara manusia. Apa yang mereka lakukan tengah malah di hutan? Kuputuskan untuk mengintip karena aku penasaran. Dalam penglihatanku, aku melihat tiga orang manusia berseragam rapi sedang berjalan melintasi hutan.
“Biar cepat, kita bakar saja hutan ini. Lagi pula nanti hasilnya dibagi-bagi, bukan?”
“Iya, tetapi mengapa harus dibakar?” tanya seorang manusia sebelum melanjutkan, “Kita bisa mengambil tanah yang lain, bukan?”
Aku mendengar decakan dari salah satu mereka. Sepertinya orang itu tidak suka dengan komentar rekannya.
“Kau ini heboh sekali, Hakim. Kau mau duit yang banyak tidak? Maka tanam Pohon Sawit yang banyak pula. Tidak ada tanah yang luas kecuali hutan ini.”
Orang yang bernama Hakim itu menghentikan langkahnya sejenak. Dia gugup, aku bisa melihat dirinya menggigit bibirnya sebelum berkata, “Tetapi bagaimana dengan hewan-hewan yang tinggal di sini? Ini rumah mereka. Memangnya kalian mau jika rumah kalian dibakar sembarangan? Aku sih tidak.”
Dua orang lagi berbalik, memperhatikan rekan mereka itu dengan tatapan meremehkan. Orang yang paling depan menggeram, sebelum berkata, “Ya sudah, jika kau mau berhenti silakan. Aku tidak peduli dengan hewan-hewan ini, yang kupedulikan adalah duit yang melimpah di rumahku.”
Kedua orang itu pergi meninggalkan rekan mereka. Setelah kuperhatikan, manusia itu memakai kemeja berwarna putih, lengkap dengan dasi berwarna hitam yang menggantung di kerah bajunya.
Aku memutuskan turun dari pohon, memperhatikan manusia itu lebih dekat. Ketika manusia itu berbalik, dia tampak terkejut melihatku. Matanya tampak berkaca-kaca. Dia menghampiriku sembari berjongkok agar tingginya dengan diriku sama.
“Maaf, aku yang salah. Seharusnya aku tidak pernah datang ke sini. Oh, sungguh, manusia macam apa aku ini? Jika aku saja tega menyakiti hewan, apalagi dengan manusia? maaf, sungguh maafkan aku. Aku yang salah,” ujar Hakim sembari mengelus kepalaku.
Aku memengang lengannya, berkata, “Tidak apa, kau tidak salah,” walau dia tidak bisa mendengarku berbicara.
Orang itu berlalu pergi, keluar dari hutan. Aku menatap punggung orang itu dengan tatapan iba. Kasihan. Hakim, oh, Hakim. Betapa baik dan polosnya dirimu.
Aku memutuskan pulang menuju pohon tempat aku dan ibu tinggal. tetapi sesampainya di sana, aku melihat kobaran api yang mulai melahap pohon satu per satu. Kulihat burung-burung beterbangan, kawananku berlari tak tentu arah.
“Ibu, Ibu.” Tidak ada sahutan. Aku hanya mendengar gemerutuk api yang mulai mengganas. Aku yakin ini ulah kedua rekan Hakim. Oh, betapa jahatnya mereka. Mereka hanya memikirkan uang, uang, dan uang. Tidak satu pun dari mereka yang peduli dengan kehidupan kami. Dasar manusia serakah!
Aku menyerah, memutuskan untuk berhenti. Aku hanya mendengar suara gemerutuk api yang perlahan melahap pepohonan di sekitarku. Ketika kesadaranku hampir habis, kepalaku terus-menerus memutar ucapan Hakim.
“Maaf, aku yang salah.”
Lalu semuanya senyap.

