Pagi itu, suara ombak terdengar lebih pelan dari biasanya. Aira berdiri di tepi pantai sambil menggenggam sebuah keranjang kecil berisi kerang-kerang yang ia kumpulkan sejak subuh.
“Aira, cepat! Nanti matahari sudah tinggi, kerangnya makin susah dicari!” teriak Lila dari kejauhan.
“Iya, tunggu! Aku lagi pilih yang paling bagus,” jawab Aira sambil tersenyum.
Lila mendekat dan mengintip isi keranjang Aira. “Wah, ini cantik-cantik banget. Mau kamu jual semua?”
Aira menggeleng. “Nggak semua. Aku mau simpan beberapa.”
“Untuk apa?” tanya Lila penasaran.
Aira menatap laut sejenak sebelum menjawab, “Aku mau kasih ke Ibu Menteri.”
Lila terdiam beberapa detik, lalu tertawa kecil. “Serius? Kamu kira Ibu Menteri mau nerima kerang dari kita?”
Aira mengangkat bahu. “Kenapa nggak? Ini kan dari laut kita. Indah, alami, dan penuh cerita.”
Lila menghela napas. “Kamu memang aneh, Ai.”
“Aneh itu nggak apa-apa,” jawab Aira ringan.
Mereka berdua berjalan menyusuri pantai, memungut kerang-kerang yang tersisa. Di kejauhan, terlihat kapal-kapal nelayan yang mulai kembali. Desa kecil mereka memang hidup dari laut, tapi beberapa bulan terakhir, hasil tangkapan menurun drastis.
“Ayahku bilang, laut kita mulai rusak,” kata Lila pelan.
Aira mengangguk. “Ayahku juga bilang begitu. Banyak sampah dan limbah.”
Lila menunduk. “Makanya aku heran kamu masih mau kasih kerang ke Ibu Menteri. Apa hubungannya?”
Aira tersenyum tipis. “Justru itu. Aku mau dia lihat sendiri. Kalau laut kita rusak, kerang-kerang ini juga akan hilang.”
Lila terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak menertawakan ide Aira.
***
Beberapa hari kemudian, desa mereka menjadi ramai. Kabar bahwa seorang menteri akan berkunjung membuat semua orang sibuk bersiap.
“Aira! Kamu jadi kasih kerangnya?” tanya Lila sambil berlari kecil ke arah sahabatnya.
Aira mengangguk mantap. “Sudah aku bersihkan dan susun. Lihat.”
Ia membuka kotak kecil berisi kerang-kerang berwarna-warni yang tersusun rapi.
“Cantik banget,” bisik Lila kagum.
“Tapi aku masih deg-degan,” lanjut Aira. “Gimana kalau aku nggak bisa ketemu langsung?”
Lila menepuk bahunya. “Kita coba saja. Kalau nggak dicoba, kita nggak akan tahu.”
Hari itu, rombongan pejabat datang dengan pengawalan. Warga berkumpul di balai desa. Aira menggenggam kotaknya erat-erat.
“Ayo, sekarang!” bisik Lila.
Mereka menyelinap di antara kerumunan. Saat sang menteri selesai memberikan sambutan, Aira memberanikan diri maju.
“Ibu!” panggilnya.
Semua mata tertuju kepadanya. Aira sempat ragu, tapi ia tetap melangkah.
“Iya, Nak?” jawab sang menteri dengan ramah.
Aira membuka kotaknya. “Ini untuk Ibu. Kerang-kerang dari laut kami.”
Menteri itu tersenyum dan menerima kotak tersebut. “Terima kasih. Cantik sekali.”
Aira menarik napas. “Tapi, ini bukan cuma hadiah.”
Semua orang mulai berbisik. Lila menggenggam tangan Aira dari belakang.
“Apa maksudmu?” tanya Sang Menteri lembut.
Aira menatap langsung ke matanya. “Kalau laut kami rusak, kerang-kerang ini akan hilang. Kami ingin laut kami dijaga.”
Suasana menjadi hening. Tak ada yang menyangka seorang anak kecil akan berbicara seperti itu.
Sang Menteri terdiam sejenak, lalu berkata, “Kamu benar. Laut harus kita jaga. Terima kasih sudah mengingatkan.”
Aira tersenyum lega. Lila hampir menangis karena bangga.
***
Beberapa minggu setelah kunjungan itu, perubahan mulai terlihat. Program pembersihan pantai dilakukan dan masyarakat diajak menjaga lingkungan.
“Aira! Lihat!” teriak Lila sambil menunjuk laut.
Airnya tampak lebih jernih dari sebelumnya.
Aira tersenyum. “Mungkin ini awal yang baik.”
Lila menatap sahabatnya. “Aku salah. Ternyata ide kamu nggak aneh.”
Aira tertawa kecil. “Kadang, hal kecil bisa membawa perubahan besar.”
Lila mengangguk. “Dan kerang-kerang itu jadi saksi.”
Aira menatap laut yang luas. Di tangannya, ia menggenggam satu kerang kecil yang ia simpan.
“Selama laut ini masih ada,” katanya pelan, “cerita kita juga akan tetap hidup.”

