Tas Pink

Aku tidak pernah menyangka akan menjadi seperti ini.

Dulu, aku hanyalah sekumpulan benang polyester berwarna merah muda pucat, terbaring rapi di gudang pabrik tekstil di pinggiran kota Bandung. Tidak ada yang istimewa dariku. Aku hanyalah bahan baku, bagian dari gulungan-gulungan besar yang menunggu giliran dipotong dan dijahit.

Namun, takdir berkata lain. Suatu pagi, tangan-tangan terampil seorang penjahit mengambil sebagian kecil dari tubuhku. Lalu, potongan demi potongan aku disatukan. Jarum menari naik turun, mesin jahit berdengung riang, hingga akhirnya—aku terbentuk menjadi sebuah tas.

Tas pink.

Ukurannya sedang, tidak terlalu besar, tetapi cukup lapang untuk menampung barang-barang penting. Ada dua tali panjang menggantung di bahuku, sebuah resleting yang berjalan mulus di bibir tas dan satu kantong kecil di dalam untuk menyimpan benda-benda rahasia. Warna pink-ku lembut, seperti kelopak bunga sakura di musim semi.

Aku digantung di sebuah toko kecil di pasar tradisional. Hari-hariku berlalu dengan sunyi. Aku hanya bisa diam memandangi tas-tas lain yang lebih berwarna dan lebih menarik yang lebih dulu dibawa pulang oleh pembeli.

“Harga tas pink ini dua puluh ribu,” kata ibu penjual kepada setiap orang yang bertanya.

Banyak yang melihatku, mengagumi warnaku yang lembut, lalu menggeleng dan pergi.

“Terlalu terang,” kata mereka, “Nanti cepat kotor.”

Aku hampir kehilangan harapan. Mungkin aku akan menghabiskan seluruh hidupku di toko ini, berdebu, dan mulai memudar. Mungkin aku tidak sebaik yang kubayangkan. Tapi kemudian, suatu sore hujan, seorang gadis kecil masuk ke toko itu sambil menggigil kedinginan.

Dia mungkin berusia sekitar delapan atau sembilan tahun. Rambutnya diikat dua. Seragam sekolahnya basah oleh air hujan. Tepat sasarannya—alih-alih mencari payung atau jas hujan—ia menatapku. Bukan sekadar menatap. Matanya berbinar.

“Bu, aku mau tas ini,” katanya lirih.

Penjual mengerutkan dahi. “Ini? Yang pink? Kamu yakin, Non? Itu sisa satu-satunya, agak lusuh sedikit.”

Gadis kecil itu menggeleng keras. “Tidak lusuh, Bu. Cantik.”

Ibunya yang menyusul masuk ke toko sambil memegang payung, awalnya ragu.

“Lala, kamu sudah punya tas.”

“Tapi yang ini istimewa, Bu. Warnanya seperti, seperti es krim stroberi.”

 Lala tersenyum lebar, menunjukkan dua gigi depannya yang ompong, “Dan aku butuh teman.”

Aku tidak mengerti maksudnya saat itu. Tapi, ibunya menghela napas, lalu mengeluarkan uang dari saku celananya. Satu lembar dua puluh ribuan berpindah tangan, dan tiba-tiba—aku berpindah.

Lengan Lala yang kecil melingkar di tali bahuku dengan hati-hati, seperti ia takut melukaiku. Tangannya yang hangat dan sedikit basah karena air hujan membawaku keluar dari toko, menuju sore yang kelabu.

“Selamat datang di dunia, Tas Pink,” bisiknya di tengah rintik hujan.

Aku tidak tahu bahwa sejak saat itu, hidupku akan berubah selamanya.

Aku menemani Lala ke mana pun. Tas pink ini—diriku—menjadi pusaka termewah yang ia miliki. Setiap pagi ia mengisi perutku dengan buku-buku cerita, tempat pensil warna-warni, dan sebotol air minum kecil. Kadang ia menyelipkan juga sepucuk surat dari temannya atau sebiji permen yang ia beli dengan uang sakunya.

Di sekolah, tas-tas lain memandangku agak aneh. Kebanyakan teman Lala membawa tas ransel bermerek dengan karakter kartun terkenal. Aku hanyalah tas pink biasa, sederhana, tanpa logo dan tanpa pita mewah. Tapi, Lala tidak peduli.

“Tas pink ini keren,” katanya ketika seorang anak laki-laki mengejek warna-warni busana sekolahnya.

“Dia unik dan dia punya cerita.”

Sejak saat itu, aku mulai menyadari bahwa Lala berbeda. Bukan karena ia memilihku, melainkan karena ia melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Di matanya, setiap benda memiliki jiwa. Setiap benda pantas dirawat.

Suatu hari, tanpa sengaja, resletingku macet ketika Lala sedang terburu-buru. Tangannya yang kecil mencoba membukaku, tapi gagal. Aku merasa sangat bersalah. Lala hampir menangis karena buku Matematikanya tersangkut di dalam.

“Sudahlah,” katanya lalu, sambil mengusap air matanya. “Bukan salahmu. Mungkin kamu lelah.”

Keanehan. Aku, sehelai tas, dilukai oleh rasa bersalah lalu disembuhkan oleh kebaikan.

Malam itu, Lala membawaku ke ayahnya, yang dengan sabar melumasi resletingku dengan lilin. Kembali lancar. Kembali utuh. Kembali seperti sedia kala.

“Ayo,” kata Lala, meraihku lagi. “Kita masih harus bertualang besok pagi.”

Tahun berganti.

Lala mulai beranjak dewasa. Seragam biru putihnya berganti menjadi seragam abu-abu, lalu kemudian jaket almamater SMA. Tapi, aku tetap setia di bahunya, meski mulai terlihat usang. Warna pink-ku kini tidak lagi secerah dulu. Beberapa jahitan di sudut bawah mulai terlepas. Ada tinta bolpoin yang tidak sengaja tumpah di bagian samping, meninggalkan noda biru yang tak mau hilang.

“Ayo ganti tas baru, La,” kata temannya suatu hari. “Itu sudah jelek.”

Aku menunggu. Aku takut. Tapi, Lala hanya menggeleng. “Tas ini bukan sekadar tas. Dia saksi bisu perjalananku. Dia ada saat aku menangis karena nilai jelek, saat aku tertawa bersama sahabat, saat aku pertama kali jatuh cinta.”

Dia membelai tali bahuku yang mulai rontok.

“Dia tidak pernah mengkhianatiku.”

Aku merasa sesuatu yang hangat mengalir di seluruh serat-serat tubuhku. Jika aku bisa menangis, aku pasti sudah banjir saat itu juga. Tapi aku tidak punya mata. Yang aku punya hanyalah Lala.

Malam-malam berlalu. Aku sering terbangun karena suara tangisnya yang tertahan selepas ia bertengkar dengan ibunya. Aku sering menyerap kehangatan pelukannya saat ia kesepian. Aku menyimpan catatan-catatan rahasia yang ia tulis di secarik kertas, lalu ia masukkan ke dalam kantong kecil di perutku.

Jika dulu aku hanya bahan polyester biasa, sekarang aku adalah museum kenangan. Hari ini, Lala—yang sekarang bukan lagi Lala kecil—mengambilku dari lemari. Sudah tiga tahun ia tidak memakainya. Aku menua di dalam kegelapan, menunggu, berharap.

“Aku lulus kuliah, Tas Pink,” katanya lembut. Matanya sembab, seperti habis menangis atau mungkin karena haru. Aku tidak bisa membedakannya. “Aku ingin kamu ada di wisudaku nanti.”

Dia membersihkan debu-debu yang menempel di tubuhku dengan kain basah, pelan-pelan dan penuh kasih. Dia menjahit kembali jahitan yang lepas dengan benang pink yang ia beli khusus. Dia bahkan menambal noda tinta biru itu dengan sulaman kecil berbentuk bunga.

Aku tidak secantik dulu. Tapi rasanya—aku lebih berarti.

Di hari wisuda, Lala menggenggamku erat. Di dalam perutku, ia menyelipkan foto kecil—foto seorang gadis kecil dengan dua gigi ompong, tersenyum di depan toko kelontong waktu hujan.

“Terima kasih sudah menjadi temanku,” bisiknya.

Lalu, aku sadar. Aku tidak pernah benar-benar menjadi tas pink biasa. Aku adalah rumah bagi ingatannya. Aku adalah tempat persembunyian air matanya, penyimpan tawanya, dan penjaga rahasia-rahasia kecil yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.

Pada sore yang cerah itu, dengan Lala berdiri di atas panggung bersama toga dan selempang wisuda, aku—tas pink usang dengan segala kekuranganku—merasa menjadi benda paling berharga di seluruh jagat raya.

Scroll to Top