Dari Guru hingga Ketua DPRD: Cara Pak Muhidi Mengajar Mental Usaha dan Kepedulian untuk Gen Z

Kalau kita mendengar kata “Ketua DPRD”, pasti yang pertama kali terlintas dalam pikiran adalah sosok pejabat yang serius, kaku, formal, dan selalu sibuk dengan urusan birokrasi serta rapat-rapat yang membosankan.

Namun, kesan stereotip seperti itu akan langsung runtuh seketika waktu kita bertemu dan mengobrol langsung dengan Drs. H. Muhidi, M.M., ketua DPRD Provinsi Sumatra Barat saat ini, periode 2024–2029. 

Di balik baju dinas yang rapi dan tanggung jawab besarnya dalam memimpin parlemen tertinggi di Sumatra Barat, Pak Muhidi ternyata menyimpan kedekatan emosional yang sangat kuat dengan dunia sekolah. Beliau adalah mantan guru sejati yang jiwanya tidak pernah bisa jauh dari anak muda.

Perjalanan hidup pria kelahiran 1 November 1963 ini untuk bisa sampai di posisi sekarang, sebenarnya tidak pernah instan. Bahkan dipenuhi kisah perjuangan yang sangat keras.

Beliau menghabiskan masa kecil dengan bersekolah di SD Negeri Muko-Muko, lalu melanjutkan pendidikan ke SMPN Muko-Muko, dan menghabiskan masa remajanya di SMA Muhammadiyah 3 Padang.

Waktu masih duduk di bangku sekolah, Pak Muhidi tidak pernah malu melakoni berbagai pekerjaan kasar demi bisa bertahan hidup dan membiayai keperluan pendidikannya sendiri.

Beliau pernah bekerja sebagai penyelam lokan di sungai, bertani di sawah, dan membantu ayahnya sebagai tukang rumah semipermanen. Beliau juga pernah menjadi buruh pabrik karet yang lokasinya sangat jauh, sampai-sampai harus berjalan kaki selama satu jam setiap hari hanya untuk menuju tempat kerja tersebut.

Keinginan Pak Muhidi untuk mengubah nasib dan menjadi orang sukses semakin kuat saat beliau beranjak remaja.

Sebenarnya, pada awalnya beliau sempat memiliki cita-cita yang kuat untuk menjadi seorang tentara. Namun, arah hidupnya berubah total setelah sang ayah memberikan sebuah nasihat mendalam yang sangat membekas di hatinya.

Waktu itu ayahnya berkata, “Saya mendukung kalau kamu masuk tentara, minimalnya masuk SMA atau tamat kuliah dulu. Saya lihat kamu ada bakat memimpin ke depannya. Kalau seandainya kamu bisa menata diri serius ke depan, bagusnya lanjutkan sekolahmu dulu.”

Nasihat emas dari sang ayah inilah yang kemudian menjadi motivator terbesar bagi Pak Muhidi untuk terus belajar, hingga akhirnya beliau memantapkan niat melanjutkan pendidikan tinggi ke IKIP Padang (sekarang Universitas Negeri Padang atau UNP) di Jurusan Pendidikan Fisika. Beliau berhasil lulus pada 1990, lalu melanjutkan studinya hingga menyelesaikan S2 Magister Manajemen di STIE-KBP Padang.

Setelah lulus dari bangku kuliah S1 itulah, Pak Muhidi memulai dedikasinya di dunia pendidikan sebagai seorang pengajar yang sabar dan penyayang, sebelum akhirnya memutuskan terjun penuh ke dunia politik pada 1999.

Perjalanan meraih impiannya sebagai guru fisika dimulai dari mengajar di Bimbel Adzkia, SMA Adabiah Padang, sampai SMA PGRI 3 Padang. Tidak hanya di tingkat sekolah menengah, beliau juga sempat membagikan ilmu pengetahuan sebagai seorang dosen di perguruan tinggi.

Bagi Pak Muhidi, mengajar bukanlah sekadar profesi masa lalu yang ditinggalkan begitu saja ketika beliau sudah menjadi pejabat, melainkan sudah menjadi bagian dari identitas dan jiwa beliau yang terus dibawa ke mana pun pergi.

Meskipun sudah lebih dari dua dekade tidak lagi mengajar secara formal di dalam kelas, sifat dasar sebagai seorang ‘Guru Sejati’ itu masih kelihatan jelas banget hingga sekarang. Di sela-sela kesibukannya yang luar biasa padat dalam mengurus kebijakan dan anggaran untuk Provinsi Sumatra Barat, Pak Muhidi masih selalu menyempatkan diri untuk datang memenuhi undangan dari sekolah-sekolah.

Menariknya, beliau hadir ke sekolah bukan untuk urusan politik atau kampanye, melainkan murni hadir sebagai narasumber acara Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK), menjadi motivator, atau pembicara dalam seminar pendidikan, seperti pada acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Nilai Literasi Siswa SMK se-Kota Padang yang diadakan Dinas Pendidikan Sumatra Barat pada April-Mei 2026.

Anak-anak sekolah banyak yang sangat senang dengan kehadiran beliau karena pembawaannya yang seru, kebapakan, humoris, dan sama sekali tidak menjaga jarak dengan kita yang merupakan generasi Gen Z. Pak Muhidi suka sekali duduk bareng, mendengarkan curhatan atau cerita para siswa, serta membagikan cerita pengalaman hidupnya yang penuh lika-liku agar bisa menjadi pelajaran berharga bagi murid-muridnya.

Kerennya lagi, beliau adalah tipe pemimpin yang sangat royal dan tidak pelit untuk memberikan reward atau hadiah spontan dari kantong pribadinya kepada pelajar yang berani tampil dan aktif di dalam forum.

Kedekatan emosional itu terasa sangat nyata waktu sesi tanya jawab pada acara Bimtek Peningkatan Nilai Literasi Siswa SMK gelombang pemantapan (peserta pilihan) pada Jumat, 22 Mei 2026. Ada salah satu siswa yang berdiri dan melemparkan pertanyaan kritis tentang bagaimana caranya kita sebagai remaja  bisa tetap menjaga rasa empati serta

kepedulian sosial di tengah gempuran zaman digital yang cenderung membuat orang-orang menjadi individualis dan cuek dengan lingkungan sekitar.

Jawaban yang diberikan Pak Muhidi waktu itu terasa sangat berkesan, mendalam, dan langsung membuat seisi ruang pertemuan di Hotel Edotel Bundo Kanduang, SMKN 9 Padang riuh dengan tepuk tangan para peserta.

“Anak-anakku sekalian, di era digital ini tantangan moral kalian memang jauh lebih berat. Tapi ingat, jangan sampai teknologi justru menghilangkan rasa kemanusiaan kita,” kata Pak Muhidi dengan tatapan yang hangat.

Beliau kemudian memberikan sebuah kalimat kunci yang langsung ngena banget di hati para pelajar.

“Karakter dasar kita itu harus peka sama sesama. Idealnya, kita ini memang banyak masalah, tapi kita harus tetap punya rasa kepedulian terhadap masalah orang lain. Itulah nilai sosial yang nggak boleh hilang,” katanya. 

Bukan cuma sekadar bicara teori di depan mikrofon, Pak Muhidi langsung mempraktikkan pelajaran mental tentang pentingnya sebuah tindakan nyata dan kerja keras lewat sebuah aksi spontan yang sempat membuat seisi aula heboh. Tiba-tiba, beliau mengeluarkan selembar uang pecahan Rp20.000 dari sakunya dan memancing para peserta Bimtek Literasi.

Beliau bertanya dengan lantang kepada forum mengenai siapa yang mau mengambil uang tersebut. Spontan, hampir seluruh siswa yang ada di dalam ruangan langsung mengangkat tangan tinggi-tinggi. Namun anehnya, dari sekian banyak orang yang menunjuk tangan, tidak ada satu pun siswa yang berani bergerak maju duluan ke depan panggung untuk mengambil uang itu.

Melihat respon ruangan yang mendadak ragu-ragu, tiba-tiba ada seorang siswa laki-laki dengan berani langsung berdiri dari kursinya dan melangkah maju ke depan hendak mengambil uang tersebut. Namun, begitu siswa itu sudah berada di dekatnya, Pak Muhidi dengan cepat langsung menyimpan kembali uang Rp20.000 itu ke dalam saku bajunya.

Ruangan sempat terdiam dan bingung melihat aksi tersebut. Tetapi di situlah esensi pelajaran berharga dari beliau keluar. Pak Muhidi tersenyum lebar, lalu berkata kepada seluruh siswa, “Jika ingin mendapatkan sesuatu, jangan cuma diam saja. Harus ada usaha.”

Meski uangnya sempat dimasukkan kembali ke dalam saku, Pak Muhidi akhirnya tetap mengeluarkan uang Rp20.000 itu dan memberikannya kepada siswa laki-laki tadi sebagai bentuk apresiasi tinggi karena dia sudah menunjukkan usaha nyata dan keberanian untuk bertindak, bukan cuma sekadar ikut-ikutan menunjuk tangan dari jauh.

Bagi Pak Muhidi, memiliki mental yang berani berusaha, pantang menyerah, serta mempunyai rasa kepedulian sosial yang tinggi adalah modal paling utama yang harus dimiliki anak muda jika ingin sukses di masa depan. Karena itu, jiwa pendidik dan nilai-nilai keguruan inilah yang selalu dibawa dan diperjuangkan beliau di kursi parlemen sekarang.

Pada 2026 ini, Pak Muhidi sedang gencar-gancarnya memperjuangkan anggaran untuk penguatan peran lembaga adat dan Bundo Kanduang melalui kebijakan DPRD Sumbar.

Sebagai sosok mantan guru yang sangat paham mengenai psikologi remaja, beliau ingin membentengi moral generasi muda di Sumatra Barat dari hal-hal negatif yang merusak masa depan, seperti bahaya narkoba, pergaulan bebas, atau aksi tawuran melalui pendekatan nilai agama, budaya, dan penguatan rasa kepedulian antar-sesama.

Dari perjalanan hidup dan cerita inspiratif Pak Muhidi ini, kita semua bisa mengambil pelajaran berharga bahwa jabatan setinggi apa pun yang berhasil kita raih di masa depan tidak akan pernah mengubah nilai-nilai kebaikan yang kita bawa dari awal.

Pak Muhidi telah membuktikan kepada kita semua bahwa meskipun sekarang benda yang dipegangnya adalah palu sidang parlemen dan bukan lagi kapur tulis sekolah, beliau akan tetap selalu menjadi sosok guru sejati yang siap memberikan support total demi menuntun jalannya generasi muda Sumatra Barat menuju masa depan yang cerah. (*)


)* Tulisan karya Farah Nurul Sakinah, siswi Jurusan Kecantikan SMKN 6 Padang ini merupakan tugas membuat feature profil tokoh pada sesi materi jurnalistik pada kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Nilai Literasi Siswa SMK se-Kota Padang yang diadakan Dinas Pendidikan Sumatra Barat dalam lima gelombang pada April-Mei 2026 di Hotel Edotel Bundo Kanduang, SMKN 9 Padang. Karya ini adalah hasil penugasan pada gelombang terakhir atau pemantapan (peserta pilihan).

Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat Drs. H. Muhidi, M.M didampingi Kepala Bidang SMK Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat Suryanto S.Pd, M.Pd (kiri), dan pemateri Literasi Sastra Yusrizal KW (kanan) pada acara Bimtek Peningkatan Nilai Literasi Siswa SMK se-Kota Padang di Hotel Edotel Bundo Kanduang, SMKN 9 Padang, Jumat, 22 Mei 2026. (Foto: Farah Nurul Sakinah, SMKN 6 Padang)
Scroll to Top