Sungai Samping Rumah

Di samping rumahku ada sebuah sungai. Sejak aku kecil, sungai itu sudah jadi tempat bermain favoritku. Hampir tiap hari aku ke sana, jadi jangan tanya lagi, sungai itu mengalir dari mana ke mana, sudah kuhafal di luar kepala.


Sore hari jadi waktu yang selalu kunanti. Saat senja mulai menjelang, aku akan pergi ke sungai. Berjalan-jalan, menikmati angin, dan kesukaanku, mendengar cerita yang dibawa oleh arus air hari itu. Yah, siapa pun yang mendengar ini pasti akan menganggap aku gila. Tapi sungguh, sungai ini bercerita, padaku. Tenang airnya menyimak detail kecil yang dianggap enteng oleh kebanyakan orang, lalu menghanyutkan rahasia-rahasia itu pada deras arusnya.


Seperti sore ini, aku berjalan pelan ke pinggir sungai. Aku duduk di sana, mencelupkan ujung kakiku ke air. Kurasakan sejuknya merambat hingga ke pergelangan kaki. Kupejamkan mataku. Kubiarkan deras arus air yang menabrak batu bercampur dengan deru angin sore memenuhi gendang telingaku. Bersamaan dengan harum bunga melati dan rumput basah yang tercium samar-samar.


“Nala, oh, Nala,” bisik pelan arus sungai.


Aku tersenyum pelan, cerita apa yang akan kau sampaikan?


Sungai itu berbisik. Seraya ia bercerita, raut wajahku berubah-ubah. Cerita pertama, tentang seorang ibu-ibu di desa kami, namanya Bu Rona.


“Wah, Bu Mira, baju baru ya, Bu? Bagus sekali”
“Eh, iya, Bu Rona, ini dari anak saya.”
“Oh, bagus ya, Bu. Pasti mahal.”
“Tidak tahu, Bu. Dikasih ya saya terima saja.”
“Oh, begitu ya, Bu.”
“Eh, Bu Mira tahu tidak? Kabar-kabarnya, kas RT kita yang hilang itu diambil Bu Tika loh, Bu.”
“Masa sih, Bu? Bu Rona tau dari mana? Bukannya kas itu hilang karna dimaling ya, Bu?”
“Coba saja Bu Mira perhatikan, akhir-akhir ini kan dia beli barang baru terus. Kemarin tas, kemarinnya lagi sepatu.”
“Beli barang baru kan tidak harus pakai kas RT, Bu.”
“Tapi kan si Tika itu aslinya miskin, tidak mungkin dong dia bisa beli barang baru terus-terusan begitu. Uang dari mana coba?”
“Eh, Bu Rona jangan begitu, Bu.”
“Ya sudah, saya permisi dulu ya, Bu Mira. Ada urusan.”

“Assalamualaikum, Bu Tika.”
“Waalaikumsalam. Eh, Bu Rona, ada apa, Bu?”
“Bu Tika, Ibu tahu tidak? Bu Mira punya baju baru loh, Bu. Mahal kayaknya.”
“Wah, bagus dong, Bu.”
“Katanya sih, dari anaknya. Tapi itu bajunya mahal sekali loh, Bu. Pasti anaknya kerja yang nggak-nggak.”
….
Hah, Bu Rona itu, selalu sibuk. Sibuk sendiri tepatnya. Pokoknya, kalau orang lain sedang senang, pasti ada saja yang tidak beres menurutnya. Soal kas RT yang hilang itu, aku sendiri tidak tahu banyak. Hanya dengar sedikit saat Bunda bicara dengan tetangga sebelah.


Satu desa memang sudah hafal dengan kelakuan Bu Rona, jadi tak banyak juga yang percaya padanya.
Aku menarik napas, menetralkan raut wajah dan emosiku, lalu kembali mendengarkan.


Cerita kedua, tentang teman-teman sekolahku, geng Enjel.
“Eh, nanti kita main yuk.”
“Ayo. Eh, tapi kan besok ada ujian.”
“Ah, gampang itu, kan bisa pakai AI. Iya kan, Enjel?”
“Benar itu, nanti bisalah diam-diam.”
“Hmm, ya sudah kalau begitu.”

Saat di ruang ujian.
“Ema, boleh minta minum?”
“Boleh, ini, Enjel.”
Botol minum itu berpindah.
“Enjel, minta minum.”
“Ini.”
Botolnya berpindah lagi.
“Sani, minta minumnya.”
“Nih.”
Dan untuk sekian kalinya, botol itu berpindah tangan.
….

Hah, geng Enjel itu sulit dideskripsikan. Kejadian opor botol di ruang ujian itu, jujur saja mencurigakan. Tapi aku tak bisa menuduh tanpa bukti. Aku bukan Bu Rona.


Saat pembagian hasil ujian, nama Enjel tersebut sebagai peringkat 5 di kelas. Aku ingat betul bagaimana wajah bangganya. Aku tak paham, bagaimana bisa ia merasa bangga? Melihatnya saja aku mual. Aku menarik napas, menetralkan raut wajah dan emosiku, lalu kembali mendengarkan.


Cerita ketiga, tentang juri sebuah lomba antar desa.
“Permisik Pak, apa seedang sibuk?”
“Ah, tidak kok, Bu. Ada apa ya?”
“Tidak apa-apa, mau menyapa juri hebat kita saja.”
“Jadi begini, Pak, anak kami, peserta nomor urut 7, punya harapan yang besar sekali di lomba ini. Kebetulan sebelumnya belum berhasil. Jadi saya ingin minta tolong, mungkin nilainya bisa dipertimbangkan lagi.”
Sebuah amplop disodorkan.
“Ini ada sedikit dari kami untuk kelancaran acara.”
“Wah, terima kasih, Bu. Nanti akan kami pertimbangkan lagi.”
“Baik, Pak. Terima kasih banyak ya, Pak.”
….

Semakin aku simak, semakin berkerut keningku. Cerita hari ini semuanya menyebalkan. Bisa-bisanya ada yang menyuap juri lomba! Mereka pasti berpikir rahasia itu di antara mereka saja. Namun, faktanya tidak begitu.


Seperti yang kubilang, tak satu pun kejadian di tepiannya yang luput dari sungai ini. Tenang airnya menyimak detail kecil yang dianggap enteng oleh kebanyakan orang, lalu menghanyutkan rahasia-rahasia itu pada deras arusnya.

Cerita-cerita itu kelak akan ditimbun di laut bersama jutaan cerita lain. Namun, sebelum ia tiba di sana, ia terlebih dulu mampir ke telingaku.

Scroll to Top