Program Studi Informasi Perpustakaan dan Kearsipan (IPK) Universitas Negeri Padang (UNP) sukses menggelar pameran bertajuk “Pusako Sarumpun: Eksibisi GLAM (Galleries, Libraries, Archives, Museums)” pada 12 hingga 13 Mei 2026 di Padang. Kegiatan ini menjadi ajang pameran tugas akhir mahasiswa angkatan 2023 sekaligus bukti nyata bahwa bidang perpustakaan dan kearsipan bisa tampil jauh lebih dari sekadar rak buku dan tumpukan dokumen.
Dibuka dengan Nuansa Budaya yang Kental
Acara dibuka secara resmi oleh Direktur Sekolah Vokasi UNP, Dr. Yudi Antomi, M.Si., dengan prosesi pemotongan pita yang diiringi penampilan Tari Pasambahan dari Sanggar Tari Rantak Sarunai — sebuah pembuka yang langsung menegaskan semangat budaya yang menjadi napas seluruh kegiatan ini.
Koordinator Prodi IPK, Malta Nelisa, S.Sos., M.Hum., dalam sambutannya menyampaikan kebanggaan atas 64 karya mahasiswa yang dipamerkan, mencakup kemas ulang informasi hingga digitalisasi arsip. Ia berharap GLAM dapat menjadi agenda tahunan yang memperkenalkan identitas prodi sekaligus menjembatani kearifan lokal dengan kemajuan global.
Pameran ini dirancang sebagai pembelajaran berbasis proyek di bawah bimbingan dosen pengampu Jeihan Nabila, S.IIP., M.I.Kom., dengan tema besar warisan budaya Minangkabau sebagai sumber inspirasi inovasi dan persatuan.

Talkshow Hari Pertama: Budaya Minangkabau di Panggung Dunia
Pada hari pertama, suasana pameran diperkaya dengan sesi talkshow bersama budayawan Minangkabau, Edy Utama. Ia berbagi pengalaman panjangnya dalam menjalankan diplomasi budaya melalui medium bunyi, rupa, dan gerak — karya-karya yang ternyata mampu menembus panggung internasional.
Bagi para pengunjung muda, sesi ini menjadi pengingat bahwa budaya lokal bukan sesuatu yang ketinggalan zaman, melainkan sebuah kekuatan yang, jika dikelola dengan baik, bisa berbicara kepada dunia.
Diskusi Hari Kedua: Digitalisasi Bukan Sekadar Memindahkan Data
Hari kedua menghadirkan diskusi yang lebih teknis namun tidak kalah menarik, mengangkat tantangan pelestarian budaya di era digital bersama Dr. Eka Melgalia, S.Hum., M.Hum.
Dalam paparannya, Dr. Eka menegaskan satu poin penting yang sering kali luput dari perhatian: digitalisasi bukan semata-mata soal memindahkan konten dari kertas ke layar. Lebih dari itu, digitalisasi adalah proses kurasi yang memastikan nilai-nilai autentik sebuah tradisi tetap hidup dan bermakna bagi generasi yang tidak pernah menyaksikannya secara langsung.
Lomba Solo Song Minangkabau: Seni sebagai Ruang Ekspresi
Kemeriahan GLAM 2026 semakin lengkap dengan diselenggarakannya Lomba Solo Song Minangkabau, yang dinilai langsung oleh juri berkompeten, termasuk Dr. Ardoni dan Desriyeni, M.I.Kom. Kompetisi ini menjadi pelengkap yang pas, menyatukan aspek akademik dengan ekspresi seni dalam satu ruang yang sama.

Lebih dari Sekadar Pameran Tugas Akhir
Secara keseluruhan, GLAM 2026 berhasil membuktikan bahwa dunia perpustakaan dan kearsipan memiliki kapasitas untuk hadir secara inovatif dan relevan. Melalui perpaduan pameran karya, diskusi pakar, dan kompetisi seni, kegiatan ini tidak hanya menjadi tolok ukur capaian akademik mahasiswa, tetapi juga sebuah ruang kolaboratif yang menghidupkan kembali kebanggaan terhadap identitas budaya di tengah arus modernisasi yang terus bergerak.
Bagi siapa pun yang selama ini menganggap arsip hanya urusan masa lalu, GLAM 2026 hadir sebagai jawaban yang cukup meyakinkan: masa lalu, jika dirawat dengan serius, adalah bekal terbaik untuk menghadapi masa depan.

