Febinaira Aisha, Anggota Sanggar Kilau Aksara, Juara I Lomba Menulis Cerita Pendek FLS3N Kota Padang

Yusrizal KW, Pendiri Sanggar Kilau Aksara menyerahkan sertifikat Kilau Terbaik Utama kepada Febinaira Aisha

Febinaira Aisha, anggota Sanggar Kilau Aksara dari SMP 1 Padang berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Menulis Cerita Pendek Tingkat SMP Se-Kota Padang dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N). Aisha berhasil mengalahkan 17 siswa dari berbagai SMP di Kota Padang. Berkat prestasi itu, Aisha akan mewakili Kota Padang dalam Lomba Menulis Cerita Pendek dalam FLS3N Tingkat Provinsi Sumatera Barat.

Pencapaian ini bukan yang pertama kali diraih oleh Aisha, sapaan akrab dari Febinaira Aisha. Sejak belajar di Sanggar Kilau Aksara, Aisha sudah meraih dua juara lainnya, yaitu Juara III Lomba Menulis Cerita Pendek dalam rangka Spensa Got Talent tahun 2025 dan Juara I Lomba Menulis Cerita Pendek Tingkat Siswa di SMP 1 Padang dalam rangka Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2026. Bahkan, di Sanggar Kilau Aksara, Aisha juga mendapat penghargaan Kilau Aksara Utama berkat kedisiplinan dan juga selalu mengumpulkan tugas tepat waktu.

“Aisha terharu karena awalnya gak pede bisa menang. Karena banyak siswa yang ikut, Aisha belum tahu kemampuan mereka seperti apa, tapi alhamdulillah, Aisha bisa menang,” ungkap Aisha kepada Tim Redaksi Kilau Aksara.

Yusrizal KW, Pendiri Sanggar Kilau Aksara (Dulu Sanggar Pelangi), sejak awal sudah melihat bahwa Aisha berbakat dalam menulis cerita pendek.

“Aisha memiliki imajinasi yang bagus yang bisa diasah terus-menerus untuk menjadi penulis cerita pendek,” ujar Yusrizal KW.

Hal ini juga yang dirasakan Aisha. Sejak belajar di Sanggar Kilau Aksara, Aisha mengaku tulisannya semakin bagus, alur ceritanya tidak berbelit-belit, seperti awal masuk sanggar tahun 2025 kemarin. Bahkan, materi dari Sanggar Kilau Aksara tentang “Biografi Benda/Hewan” telah mengantarkan Aisha menjadi pemenang lomba FLS3N.

“Aisha berkesan dengan materi Om KW mengenai menulis dari sudut pandang benda/hewan. Kami diajar untuk menulis cerita dari sudut padang benda atau hewan, menuliskan gimana perasaannya. Itu juga yang Aisha bawa ke Lomba FLS3N. Aisha memilih tema Menjaga Bumi dan menulis dari sudut pandang sebatang pohon,” ungkap Aisha.

Aisha menceritakan bahwa dalam cerita pendeknya, ia menjadi sebatang pohon. Sebagai pohon, ia tidak mau ditebang karena ia bertemu dengan seorang tokoh bernama Sarah, seorang anak yang suka membaca buku dan bermain di bawah pohonnya yang rindang. Pohon ini terharu karena masih ada yang mencintai bumi, terutama mencintai pohon seperti dirinya. Oleh karena itu, ia ingin melindungi Sarah dan penduduk yang tinggal di bukit, di tempat ia tumbuh.

FEBINAIRA AISHA, Pelajar SMP 1 Padang, anggota Sanggar Sastra Kilau Aksara bersama dewan juri setelah pengumuman pemenang lomba FLS3N.

Kepada Tim Redaksi Kilau Aksara, Aisha menceritakan bahwa prestasi ini diraih Aisha karena kesukaannya membaca buku dan juga ketekunannya selama belajar di Sanggar Kilau Aksara. Aisha belajar bersama Om KW (Yusrizal KW) dan Kak Ria (Ria Febrina) setiap hari Minggu pukul 14.00 WIB. Ia belajar bersama puluhan siswa SMP dan SMA Se-Kota Padang.

Ada banyak materi yang didapatkan Aisha dan seluruh anggota sanggar tentang menulis cerita pendek. Materi itu yang mengantarkan Aisha hari ini bisa menulis cerita pendek dengan baik.

Aisha juga menceritakan bahwa buku yang paling disukanya adalah novel berjudul Bumi karya Tere Liye dan Totto Chan, Gadis Cilik di Jendela karya Tetsuko Kuroyanagi. Novel tersebut sangat berbekas sehingga ia terus membaca hingga saat ini.

Tidak hanya Aisha, Ibu Irly Andriani, orang tua Aisha juga bangga atas prestasi yang diraih anaknya. “Alhamdulillah, ketekunan dan kerajinan Aisha menulis membuahkan hasil,” ungkap Ibu Irly Andriani.

Kepada Tim Redaksi Kilau Aksara, Ibu Irly Andriani menceritakan bahwa sejak SD, Aisha tidak diizinkan menggunakan handphone, laptop, atau ipad. Mereka baru akan meminjamkan hape, laptop, atau ipad jika Aisha membutuhkan untuk tugas sekolah. Untuk mengisi waktu ketika dia bosan, Ibu Irly memberikan Aisha buku.

“Itu yang dibaca Aisha ke mana pun,” ungkapnya.

Menurut Ibu Irly, dari suka membaca bukulah, Aisha kemudian suka menulis. Karena Aisha tidak menggunakan handphone, saat jam istirahat sekolah, Aisha sering duduk di perpustakaan untuk membaca buku dan juga menulis. Suatu hari guru di perpustakaan bertanya, “Aisha menulis apa?” Aisha menunjukkan tulisannya dan guru tersebut membacanya. Guru Aisha menilai cerita pendek Aisha bagus dan berencana mengirimkan tulisan itu ke Koran Singgalang. Namun, Aisha menolak karena tidak pede (percaya diri).

Suatu hari, Pak Wahyu, guru bahasa Indonesia di SMP 1 Padang membuka pendaftaran bagi siswa yang mau belajar menulis di Sanggar Kilau Aksara. “Aisha membaca pesan itu dan minta izin kepada saya untuk ikut kelas menulis di Sanggar Kilau Aksara. Kami mengizinkan dan setiap minggu Aisha belajar di sanggar,” ungkap Ibu Irly bahagia.

Selain itu, Ibu Irly juga selalu mendukung aktivitas Aisha membaca. Setiap bulan, Aisha dibelikan 2—3 buku. “Awalnya, Aisha tidak suka membaca. Namun, kami membelikan Aisha sebuah novel. Judulnya Ayahku Bukan Pembohong karya Tere Liye. Mungkin karena tertarik, kok seru, akhirnya Aisha selalu membeli buku-buku Tere Liye,” kenang Ibu Irly tentang perjalanan membaca Aisha.

Sekarang, Ibu Irly berusaha membujuk Aisha untuk membaca banyak bacaan lain selain novel. Di antaranya buku berjudul Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga. Katanya, sejak Aisha tidak punya handphone, teman-teman Aisha pun jadi tersaring. Buku ini menjadi motivasi agar Aisha tidak merasa sendiri.

Melalui Tim Redaksi Kilau Akrasa, Aisha juga mengajak teman-teman untuk selalu semangat membaca dan menulis. “Dari membaca itu, kita bisa membuka jendela ilmu. Banyak dari buku, termasuk buku fiksi, ngajarin kita beberapa bagian penting dalam hidup. Kita jadi banyak tahu dari buku,” ungkapnya. (*)

Scroll to Top