Sebelum Hilang

Terkadang, kita dibawa berlari bersama, menari dalam kebahagiaan di bawah langit yang cerah. Namun, tangan siapa yang bersedia menggenggam sebatang payung saat kita diguyur hujan? Adakah yang mengusap ketika kotoran mengenai tubuhmu? Banyak dari mereka hanya membiarkan hingga yang basah menjadi kering, lalu yang kotor tetap menempel. Itulah perlakuan orang-orang terhadap kita si pasangan yang tak dirayakan hubungannya, sepatu.

Aku mendengar ketukan pintu yang tergesa. Begitu pintu terbuka, dia melepasku dengan sentuhan kasar dan melempar ke sembarang arah. Aku tergeletak di pojok kiri, sementara pasanganku di posisi yang jauh. Aku punya tempat, tapi tak diletakkan selayaknya.

“Ibu, uangku tertinggal. Tolong carikan, Bu. Aku lupa meletakkannya di mana, aku mau pergi dengan temanku,” ucap anak perempuan dengan rambut yang dikuncir dua. Dia yang kukatakan tadi, yakni pemilikku.

“Kamu ini kebiasaan, Tisa. Belajarlah untuk lebih peka dengan apa yang kamu punya. Jangan cepat lupa,” wanita itu menaruh selembar uang biru ke dalam telapak tangan sang anak, wajahnya yang mulai keriput tersenyum manis sembari mengelus pucuk kepala Tisa.

“Iya, Bu. Aku sudah mendengarnya puluhan kali,” Tisa mencium punggung tangan ibunya, dia kembali memakaiku.

Aku tak tahu akan dibawa ke mana kali ini, tapi yang jelas aku merasakan langkah kakinya yang ringan. Entahlah, anehnya aku merasakan perasaan bahagia yang sempat kurasakan, saat dia pertama kali memakaiku. Dahulu, aku sepatu yang dia nanti-nantikan dengan mata berbinar. Dia membanggakanku pada teman-temannya, apakah kali ini akan sama?

Langkahnya terhenti, kepalanya menunduk ke arahku. Oh, tidak! Lumpur kehijauan itu menumpang lagi di tubuhku. Dia hanya berdecak pelan, kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Tisa meloncat kegirangan, aku terpaksa menahan bau yang sudah tak asing lagi.

“Tisa! Ke sini, aku di sini,” suara itu terdengar dari samping kananku, anak itu melambaikan tangannya ke arah Tisa.

“Hei, Mia, ayo kita jajan dulu!” Tisa terdengar bersemangat, suaranya lantang. Dia langsung menautkan tangannya dengan anak itu, menarik pelan menuju penjual es krim.

Mia melepaskan ikatan jarinya pada Tisa, “Sebentar, lihat dulu sepatuku. Ini sepatu baru, ada pita di atasnya. Lucu, bukan?”

Tisa terdiam, kurasa lemas menjalar di kakinya. Ia meremas ujung bajunya, cahaya di matanya mulai redup. Tatapannya mengarah ke sepatu dengan pita kecil itu. “Oh, iya, bagus. Namun, aku tak suka yang seperti itu.”

Sesaat perasaanku terasa berat melihat raut wajahnya, tetapi sedikit terobati dengan mata yang ia lontarkan tadi. Aku melihat Mia yang tersenyum miring, dia berlalu begitu saja meninggalkan Tisa seorang diri.

Kini, dia melangkah pelan kerumah. Terasaberat. Bukan tubuhnya, tapi ada yang iatahan jauh di dalam tubuh kecil itu. Suara ketukan pintu tak sekeras tadi, bahkan terdengar samar-samar. Ibunya menjatuhkan pelukan hangat pada Tisa, “Kenapa, Nak?”

Cairan bening yang sedari tadi menumpuk di matanya, seketika mengalir deras membasahi pipinya yang bulat. Tisa mengangkat suara yang tersendat di ujung tenggorokan, “Aku mau beli sepatu baru, Bu! Sepatu ini jelek. Aku tidak suka. Buang saja sepatu ini!”

Bagaimana ini? Ada sesuatu yang memaksa tumpah dalam diriku. Namun, aku hanya sebuah sepatu. Kulihat pasanganku di samping, ia juga tampak menahan sesuatu, mungkin menahan sesak yang tak punya tempat untuk keluar. Aku tidak diinginkan lagi.

Ibunya mengangguk cepat seraya menyeka sisa air di pipi anaknya, “Ya, besok kita beli yang baru.”

Aku mulai terbiasa dengan tempat ini, ketika aku hanya tersimpan di atas rak sepatu dengan matahari yang menembak ke arahku lewat celah jendela. Aku tak merasakan sentuhan tangan manusia lagi. Aku tak berharap pada sentuhan lembut, bahkan sentuhan kasar mungkin akan kuterima. Kotoran itu sudah bersahabat denganku, meski baunya semakin menusuk.

Wanita dengan kerutan halus di ujung matanya, menyentuhku kembali. Dia mencuciku perlahan dengan sabun. Aku tahu bahwa ia jarang mencuci sepatu, sentuhannya terasa berbeda. Dia mengeringkanku di bawah sinar terik yang biasa kurasakan. Aku dimasukkan kembali ke dalam kotak, tempat aku pertama kali dilahirkan.

Lama aku berdiri di kotak itu. Saat kotak terbuka, aku menemukan pemandangan yang tak biasanya. Bangunan sederhana. Permukaan dinding yang sedikit mengelupas, lantai putih dengan remah-remah roti di atasnya. Aku menatap celah kecil pada pintu yang terbuka, mainan mobil dan sebagainya terkumpul di sana. Ayunan yang berderit, suara langkah kaki yang berlari, tangisan sendu, tawa canda dan teriakan kecil anak-anak. Halamannya tak cukup luas, tapi mampu menampung kehangatan untuk mereka. Aroma masakan rumah menyebar lewat udara, panggilan lembut dari seorang ibu yang mengawasi mereka terdengar dari dalam. Serempak mereka masuk ke dalam sana, begitu juga aku.

Gadis kecil di hadapanku ini memandangku. Aku pernah melihat tatapan itu. Dia mengusapku, memakaiku pada kakinya yang kecil. Langkahnya sungguh berhati-hati. Dia bergumam, “Aku suka.”
Aku tak merasa senang, aku hanya menunggu hari ketika dia akan membuangku.

Sejak dia memakaiku, aku tak pernah lagi bertemu Tisa. Mungkin seperti apa yang kudengar kala itu, “Terima kasih sudah menyumbang di panti kita, Bu.”

Sekarang aku menopang kaki yang berbeda, Nuri si gadis kecil dengan rambut terurai itu membawaku berjalan santai di antara pohon rindang. Pandanganku menangkap benda kecil yang kaku, runcing dan tajam di bagian bawahnya. Itu paku. Aku melihat Nuri yang masih berjalan tepat ke arah paku itu. Aku tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Jika aku bertahan di sini, aku akan rusak dan dia akan membuangku lebih cepat. Namun, jika aku membiarkan, kakinya yang akan terluka.

Paku itu menerobos masuk ke tubuhku, menyisakan luka di permukaan kulitku. Retak dan tercabik pelan. Ini sakit, tapi aku yang memilih. Nuri terhenti, dia menduduki dirinya untuk sekadar melepaskanku. Tamat sudah. Kurasa dia menyadari lukaku. Setelah ini, aku akan merasakan tak dingin lagi.

Tatapannya jatuh tepat ke bagian bawahku, dia berbisik lirih, “Kasihan sekali.”

Aku salah. Ternyata dia bergerak lincah memasuki rumah, bukan untuk minta diganti, tetapi untuk diperbaiki.

Bahkan saat kakinya tumbuh lebih besar dan tak muat memakaiku lagi, dia masih merawatku. Setiap melewati rak sepatu, ia mengusap debu yang menempel di tubuhku. Aku melihatnya membersihkanku dengan jemari yang sangat hati-hati.

Di tengah itu, aku mendengar langkah kaki yang tak terasa asing kembali mendekat ke sini. Cara berjalan, caranya menyeret, aku mengenalinya. Dia Tisa. Ia berhenti di depan Nuri, ia menatap Nuri tanpa suara. Mulutnya terbuka ragu. Dia berpindah menatapku, suaranya nyaris tak terdengar, “Sepatunya, boleh buat aku?”

Dia kembali menatap Nuri, manik matanya berputar ke sembarang arah seperti menimbang sesuatu, “Sekarang, kelihatannya bagus ya? Tidak seperti dulu, jelek. Untuk aku saja ya? Kakiku kecil, aku yakin masih muat.”

Nuri terdiam, napasnya tertahan sejenak. Ia menatap Tisa hati-hati, lalu menggeleng pelan dengan senyum tipis, “Maaf, aku tidak bisa.”

Dia memelukku lebih erat seolah aku akan pergi jauh, “Walau aku tidak pakai lagi, tapi aku masih butuh dia. Dia pernah menemaniku saat aku tidak punya apa-apa.”

Tisa menatap kosong ke arahku, ibunya yang berada di sisinya menggenggam lembut tangan sang anak, “Kamu tidak ingat pesan ibu?”

Tisa menggeleng kecil, “Apa, Bu?”

“Belajarlah untuk lebih peka dengan apa yang kamu punya, jangan cepat melupakan.”

Scroll to Top