Aku terletak di pojok gudang yang penuh dengan debu.
Lampu-lampuku tidak lagi menyala, patung Hello Kitty dan kelinci putih kecil itu sudah lama tidak diterangi lampu-lampu yang bersinar ketika musikku dimainkan.
Gelap, sunyi, tidak disayangi.
Lagu-laguku tidak lagi mengalun lembut.
Sekarang aku adalah sebuah kotak musik yang rindu akan suara tawa yang mengalun lembut di telingaku, jika aku punya.
***
Aku masih ingat pertemuan pertamaku dengan Kana.
Gadis itu terus-menerus melihat ke arahku ketika dia masuk ke toko pernak-pernik.
Saat itu aku sedang memutar lagu klasik Marriage D’amour.
Lampu-lampuku menyala sembari memutarkan dua patung kecil yang menghiasi bagian dalamku.
“Ibu,” teriak Kana kepada sang ibu ketika dia beranjak mendekatiku.
Aku yang saat itu sedang asyik memutarkan lagu-lagu klasik yang lembut itu seketika terlonjak kaget.
Kutatap mata berwarna cokelat muda milik gadis itu, jika aku punya mata.
“Tidak jadi beli boneka, beli ini saja,” pinta Kana kepada ibunya sembari menunjukkan wajah memelas khasnya.
Sang ibu hanya menghembuskan napas pelan, lalu berjalan mendekati pegawai toko tersebut untuk meminta agar aku dibungkus dengan rapi.
Di perjalanan pulang, Kana terus-menerus memutarku dengan penuh semangat seraya tertawa pelan.
Aku tersenyum melihat Kana yang menikmati musik yang kualunkan untuknya.
***
Kana menaruhku di atas meja belajarnya yang penuh dengan buku pelajaran, juga beberapa novel anak remaja. Ketika Kana keluar kamar untuk makan malam, kudengar salah satu novel itu berbicara kepadaku.
“Hei kotak musik, senang bertemu denganmu,” sapa novel yang berjudul Tentang Kita yang tergeletak tak jauh dari tempatku berdiri.
Kubalas sapaannya tadi sembari tersenyum hangat.
“Kau adalah kotak musik keempat yang kami lihat sejauh ini,” lanjut novel tadi.
Aku mengernyit heran, lalu memutuskan bertanya, “Jika begitu, kotak musik sebelumnya ada di mana?”
Novel itu menghembuskan napasnya perlahan sebelum menjawab, “Ditaruh di gudang yang gelap, sempit, dan lembap.”
“Percayalah padaku,” lanjut novel itu sebelum meneruskan kalimatnya, “Kau akan terletak di gudang itu enam bulan lagi.”
Aku memandang novel itu dengan tatapan tidak suka.
Sebagai sebuah novel, dia ini resek sekali.
***
“Kana, aku mohon, jangan taruh diriku di gudang yang gelap itu!” teriakku pada Kana yang tentu saja, dia tidak akan mendengarnya.
Seperti yang novel itu katakan kepadaku, kemarin aku melihat Kana membawa sebuah kotak musik balerina yang cantik sekali. Lekukan-lekukannya begitu menawan dan warnanya jelas lebih mentereng dariku.
Kana pergi membawaku ke sebuah gudang yang gelap dan menaruhku di atas meja kayu yang tidak terpakai lagi. Kulihat di sana berjejer rapi tiga kotak musik berwarna biru, ungu, dan kuning pastel.
Mereka menatapku dengan tatapan iba. Si kuning pastel menatapku dari atas sampai bawah sebelum berkata, “Yah, selamat datang di ruang hampa.”
Aku menatap mereka satu-satu dan bisa kulihat dengan jelas jika mereka sama-sama kecewa dengan gadis itu.
“Sudah berapa lama kalian berada di tempat ini?” tanyaku.
Si biru pastel menjawab, “Aku sudah dua tahun, si Ungu sudah setahun, dan si Kuning sudah enam bulan sejak kau dibeli.”
“Selamat datang di gudang ini, Merah muda,” lanjut si Biru Pastel dengan nada yang iba.
Aku menatap mereka satu-satu dari atas sampai bawah. Kondisi mereka baik-baik saja, tidak ada yang rusak. Bahkan ketika Si Biru pastel itu memutarkan lagu Clair de Lune, lampu-lampu dan suaranya masih berfungsi dengan baik.
“Gadis itu suka sekali membeli barang-barang baru,” ucap si Ungu dengan geram sebelum melanjutkan, “Padahal, kami masih bisa dipakai. Dasar gadis merepotkan.”
Ucapan si Ungu itu disetujui oleh si Kuning. “Dia tahunya menghabiskan duit orang tuanya saja. Sebal sekali,” ucap si Kuning yang menimbulkan kegaduhan sesaat.
Aku tidak menanggapi. Sebagai sebuah kotak musik berwarna merah muda pastel, aku memutuskan untuk menunggu Kana mengambilku kembali. Aku tidak pernah absen menghitung hari. Seminggu, sebulan, setahun, aku tetap menunggunya.
Dia sempat melihatku ketika dirinya sedang mengambil sebuah kardus besar di gudang. Masih sempat dia memutar musikku, tetapi hanya sebentar. Dua tahun lamanya, tak terhitung berapa kotak musik yang ada di dalam gudang ini.
Dulu hanya empat, termasuk aku. Sekarang mungkin sekitaran delapan. Namun, Si Balerina cantik itu tetap dipajangnya. Menyebalkan, aku kalah dari Balerina cantik itu.
Menyerah, aku memutuskan untuk menyendiri di pojok meja kayu itu. Tiga tahun lamanya, musikku tidak lagi mengalun. Lampu-lampuku sudah mati total dan patung-patung kecil di dalamku itu teronggok bisu.
Aku hanya bisa berharap, Kana akan kembali mengambilku dan menaruhku di atas meja belajarnya, bersama dengan novel resek itu.
Kini aku mengalun pada laguku sendiri, tidak tentu akan ke mana.[]

