Aku adalah sebuah payung. Aku berwarna grey, mempunyai motif beruang di seluruh area luar tubuhku dan berwarna hitam di seluruh area dalam tubuhku. Jika aku dikembangkan, bagian luar tubuhku akan nampak dengan motif beruang. Aku tinggal di sebuah toko yang menjual berbagai payung. Aku diletakkan di dalam rak dengan beberapa payung lainnya dan bagian luar tubuhku diberi plastik transparan agar tidak kotor.
Waktu itu ada seorang anak perempuan bersama ayahnya menuju tempat tinggalku, yaitu toko payung. Mereka berdua memasuki tempat tinggalku melihat beberapa payung yang ada di sana. Pemilik toko itu langsung mengeluarkan berbagai payung ke arah anak perempuan itu. Mata anak perempuan itu langsung tertuju pada salah satu payung, yaitu aku.
“Ayah aku ingin payung yang bermotif beruang itu,” pinta anak perempuan itu sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.
Ayahnya langsung melihat ke arahku dan berkata, “Iya boleh ambil saja”
Anak perempuan itu tampak senang sekali ia mengambilku dan memelukku dengan senyuman sembari berkata, “Aku senang sekali mendapatkan dirimu, aku akan menggunakan dirimu saat hari hujan.”
Saat ia mengatakan itu, ingin rasanya aku melontarkan kalimat, “aku akan selalu melindungi dirimu dari hujan”. Sayangnya, hal itu tidak akan terjadi. Ia tidak akan bisa mendengarkan ucapanku.
Pada waktu perjalanan hidupku dimulai, anak perempuan itu bernama Kayla. Setiap malam ia pasti akan memeluk diriku sebelum memasukkan aku ke dalam tasnya.
“Besok aku akan membawa dirimu, jangan kabur ya!” pinta Kayla kepadaku sembari memelukku. Aku ingin sekali mengucapkan terima kasih kepadanya, tetapi tidak bisa.
Besoknya saat ingin berangkat ke sekolah, ia mengambil tasnya dan membawaku. Kayla berjalan sendiri menuju sekolah. Kayla melihat keadaan sekeliling sembari berkata, “Hari ini mendung sekali, pasti nanti akan hujan, but tidak apa aku bisa menggunakan payungku jika terkena hujan”.
Senang sekali rasanya ia berkata seperti itu. Aku berada di dalam tas Kayla, terguncang-guncang saat ia berjalan. Aku ditemani oleh buku yang ada di dalam tasnya. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya Kayla sampai di sekolah. Ia segera menuju kelasnya.
Kayla meletakkan tasnya di bangku tempat ia duduk. Tiba-tiba saja ia mengeluarkan diriku. Kayla berjalan menuju segerombolan temannya yang ada di sana. Ia menunjukkan diriku kepada teman-temannya.
“Teman-teman, lihat payungku, bagus kan,” seru Kayla kepada teman-temannya.
Teman-temannya yang melihat itu langsung menunjukkan ekspresi kagum melihat diriku seakan aku adalah sebuah barang langka di dunia ini.
“Payungmu bagus sekali, beli di mana?” tanya salah seorang temanku yang bernama Dino.
Kayla tersenyum sembari berkata, “Iya dong, bagus, aku membelinya di pasar waktu itu”.
“Oh, ya, apakah kamu tahu nama tokonya apa?” tanya temanku lagi yang bernama Gigi.
Kayla langsung menunjukkan ekspresi bingung sembari berkata, “Aku tidak ingat nama toko itu, but yang pasti aku membelinya di toko yang menjual berbagai payung,” jawab Kayla sambil tersenyum.
Teman-teman Kayla langsung menghela napas saat ia melontarkan kalimat itu dan segera kembali ke tempat duduknya masing-masing. Bel masuk telah berbunyi. Pelajaran di kelas hari ini akan dimulai.
Aku sangat senang saat Kayla menunjukkan diriku kepada teman-temannya. Ingin sekali rasanya aku melontarkan beberapa patah kalimat di sana. Mendengar bel masuk, Kayla segera menuju tempat duduknya dan meletakkan aku di laci mejanya.
Empat jam telah berlalu. Aku masih berbaring di dalam laci meja Kayla. Aku merasa sejuk ketika di dalam laci itu, aku ditemani oleh buku-buku. Tiba-tiba saja hari menjadi hujan.
“Benar kata Kayla, hari ini pasti akan hujan,” ucapku dalam laci itu. Kayla pasti tidak mendengar ucapanku.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Kayla segera membereskan seluruh bukunya ke dalam tas dan tidak lupa untuk mengambil diriku. Kayla segera menuju ke luar kelas sambil berlari kecil agar bisa pulang cepat. Sesampainya ia di gerbang sekolah, ia melihat salah seorang teman kelas lainnya yang sudah pasrah karena hujan. Melihat mukanya khawatir, Kayla segera menuju ke sana.
Kayla menyentuh pundak Cantika sembari berkata, “Cantika, aku lihat mukamu kusam sekali, ada apa?” tanyanya dengan lembut.
Cantika melihat ke arahku memutar tubuhnya sembari berkata, “Aku tidak tahu bagaimana ingin pulang, hari ini hujan aku tidak membawa payung sama sekali,” ucap Cantika sembari menghela napas panjang.
“Ya sudah, pulang denganku saja, kebetulan sekali aku membawa payung kebanggaanku,” ujar Kayla kepada Cantika.
Kayla mengambil diriku dari dalam tas, mengeluarkannya, dan menarik diriku itu agar terkembang saat dibuka. Kebetulan sekali, aku bisa menampung dua orang agar tidak terkena hujan.
Kayla langsung mengajak temannya itu. Belum sempat Cantika ingin melontarkan kalimat, Kayla sudah langsung menarik tangannya dan mengantarnya pulang.
Hujan mengenai seluruh tubuhku. Suara rintik hujan yang terdengar membuat diriku basah terkena rintikan hujan itu. Aku merasa sangat dingin dan sangat senang karena bisa melindunginya dari hujan agar tidak basah.
Kayla selalu menjaga diriku. Jika aku basah, pasti ia menjemurku. Apalagi sudah kering. ia pasti langsung mengambilku dan meletakkanku di tempat yang aman. Setelah lama sekali aku digunakan, aku sudah tampak kurang bagus lagi. Saat Kayla mencoba menggunakanku lagi, menariknya saja sudah susah, tetapi ia tetap sabar dan memperbaiki diriku lagi. Aku merasa senang diperbaiki olehnya, tetapi jika seperti ini terus pasti diriku tidak akan digunakan lagi.
Pada malam hari keluarga Kayla sedang makan malam bersama. Kakek Kayla membawakan sebuah kotak berwarna emas dengan pita merah di atasnya. Kakek Kayla memberikan kotak itu kepada Kayla. Kayla membuka kotak itu dan ternyata isinya adalah sebuah payung. Payung itu berwarna putih, memiliki motif bunga adenium yang sangat indah. Payung itu sangat berbeda sekali dengan diriku. Aku hanya bermotif beruang dan sekarang motif itu sudah hampir memudar. Kayla sangat senang sekali melihat payung itu, matanya berbinar-binar seakan mendapatkan penggantiku.
Kayla mengambil payung itu dan mencobanya. Kayla menekan tombol yang ada di payung itu, payung itu langsung terbuka dengan sendirinya. Tidak usah payah lagi kita untuk menariknya ke atas terlebih dahulu. Aku tahu payung itu sangat canggih, berukuran kecil sehingga bisa di bawa ke mana saja.
Saat kemunculan payung baru itu, Kayla sudah tidak pernah menggunakanku lagi. Setiap hari Kayla membawa payung itu ke mana saja. Saat ia terkena hujan pun, aku sudah tidak bisa melindungi dirinya lagi. Aku diletakkan oleh Kayla di gudang bersama barang-barang yang sudah tidak digunakan lagi. Kayla menggantungku di dalam gudang tanpa plastik transparan itu untuk melindungiku.
Berbulan-bulan aku menunggu diriku untuk digunakan lagi oleh pemilikku, rindu disayang oleh dirinya lagi, rindu selalu dibawa kemana saja olehnya dan rindu dibilang payung kebanggan lagi. Sayangnya, hal itu tidak terjadi lagi.
Tiba-tiba saja pintu gudang dibuka, cahaya dari pintu itu memberiku penuh harapan. Aku harap Kayla ingin mengambilku lagi untuk digunakan. Aku lihat yang masuk ternyata bukan Kayla melainkan Ayahnya, Ayahnya juga meletakkan sebuah barang di dalam gudang. Barang itu sepertinya bernasib sama dengan diriku, di letakkan di gudang, tidak dipakai dan bahkan dibiarkan begitu saja hingga dipenuhi sarang laba-laba.
Pada waktu inilah, hidupku berakhir dan seluruh barang yang ada di gudang itu di bawa ke tempat pembuangan barang rongsokan yang sudah tidak digunakan lagi oleh pemiliknya. Sekarang aku tidak seperti dulu lagi, sudah saatnya aku diganti dengan yang baru.

